Pendidikan Nasional di Persimpangan Zaman: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:48:34


/

Radarjambi.co.id-Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi yang semakin relevan di tengah dinamika zaman.

Upacara nasional yang digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, menghadirkan pesan kuat dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, bahwa pendidikan harus menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa.

Dengan mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, peringatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga upaya membentuk watak dan peradaban bangsa.

Pendidikan harus mampu melahirkan manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan nasional tidak boleh terjebak pada orientasi akademik semata, tetapi harus menyentuh dimensi karakter dan kemanusiaan secara utuh.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa cita-cita tersebut belum sepenuhnya tercapai. Kesenjangan kualitas pendidikan masih terjadi antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil.

Akses terhadap fasilitas, teknologi, serta tenaga pendidik yang berkualitas belum merata. Di sisi lain, sistem pembelajaran di banyak sekolah masih berorientasi pada hafalan, sehingga belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

Menjawab tantangan tersebut, Abdul Mu’ti memperkenalkan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam sebagai salah satu arah kebijakan strategis.

Pendekatan ini menekankan bahwa proses belajar harus menjadi pengalaman yang bermakna dan berpusat pada murid. Ia menegaskan, “Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan.

Jika hendak memperbaiki pendidikan, mulailah dari dalam kelas.” Pernyataan ini mengandung pesan sederhana namun mendalam: perubahan besar dalam pendidikan harus dimulai dari praktik pembelajaran sehari-hari.

Langkah konkret pemerintah juga terlihat melalui program revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran. Ribuan sekolah telah tersentuh perbaikan infrastruktur, sementara pemanfaatan teknologi seperti perangkat pembelajaran digital mulai diperluas.

Upaya ini menunjukkan adanya komitmen untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam menghadapi era digital yang menuntut literasi teknologi yang tinggi.

Meski demikian, keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh program, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, terutama guru.

Peningkatan kualitas, kompetensi, dan kesejahteraan guru menjadi kunci utama. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi agen perubahan yang menentukan arah pendidikan di kelas. Tanpa dukungan yang memadai, sulit bagi guru untuk mengimplementasikan inovasi pembelajaran secara optimal.

Selain itu, penguatan karakter melalui lingkungan belajar yang aman dan nyaman juga menjadi perhatian penting. Konsep budaya sekolah yang mengedepankan nilai Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam ekosistem yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.

Di tengah berbagai upaya tersebut, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah pentingnya kolaborasi. Pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah atau pemerintah.

Keluarga, masyarakat, dan media memiliki peran yang sama penting dalam membentuk generasi masa depan. Integrasi empat pusat pendidikan ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Sebagai refleksi, Hardiknas 2026 seharusnya menjadi titik balik bagi pendidikan nasional untuk bertransformasi secara lebih konkret.

Gagasan yang perlu didorong ke depan adalah menciptakan pendidikan yang benar-benar adaptif terhadap perubahan zaman. Sekolah harus menjadi ruang yang mendorong kreativitas, berpikir kritis, dan kolaborasi, bukan sekadar tempat mengejar nilai.

Sekolah seharusnya menjadi ruang yang mampu mendorong kreativitas, berpikir kritis, dan kolaborasi agar siswa tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Dalam penerapannya, sekolah dapat menciptakan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif mencari, mengembangkan, dan menyampaikan ide.

Misalnya, guru dapat memberikan tugas berbasis proyek, seperti membuat karya ilmiah sederhana, video edukasi, poster kampanye, atau presentasi kelompok.

Kegiatan tersebut dapat melatih kreativitas siswa dalam menghasilkan gagasan baru dan menyelesaikan masalah dengan cara yang inovatif.

Selain kreativitas, sekolah juga perlu menanamkan kemampuan berpikir kritis melalui proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk bertanya, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.

Dalam realitanya, guru tidak hanya memberikan materi secara satu arah, tetapi juga mengajak siswa berdiskusi, memecahkan masalah, serta memberikan pendapat terhadap suatu isu.

Contohnya, dalam pembelajaran berita atau literasi digital, siswa dapat diajak menganalisis apakah suatu informasi termasuk fakta atau hoaks.

Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar untuk tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

Penerapan kolaborasi dapat dilakukan melalui kegiatan belajar kelompok, diskusi kelas, maupun proyek bersama. Dalam kegiatan tersebut, siswa belajar bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Realitanya, kemampuan bekerja sama sangat penting karena kehidupan di masyarakat maupun dunia kerja menuntut seseorang untuk mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan banyak pihak.

Oleh sebab itu, sekolah perlu menciptakan suasana belajar yang tidak hanya menekankan persaingan nilai, tetapi juga membangun sikap

saling membantu dan kerja sama antarsiswa.

Namun, pada kenyataannya masih banyak sekolah yang lebih berorientasi pada hasil ujian dan nilai akademik.

Pembelajaran sering kali berpusat pada guru sehingga siswa kurang memiliki ruang untuk mengeksplorasi ide dan berpikir secara mandiri.

Karena itu, diperlukan perubahan dalam sistem pembelajaran agar sekolah benar-benar menjadi tempat yang mendukung pengembangan potensi siswa secara menyeluruh, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun karakter.

Solusi yang dapat ditawarkan antara lain mempercepat pemerataan akses pendidikan melalui teknologi, memperkuat pelatihan guru berbasis kebutuhan nyata, serta mendorong kurikulum yang lebih fleksibel dan kontekstual.

Selain itu, penting untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat, di mana pendidikan tidak berhenti di bangku sekolah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebagai gagasan penulis, masa depan pendidikan Indonesia terletak pada kemampuannya membangun ekosistem yang inklusif dan kolaboratif.

Pendidikan harus mampu menjembatani kesenjangan, bukan memperlebar perbedaan. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi ruang yang memanusiakan manusia—membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab sosial.

Ajakan Abdul Mu’ti di akhir pidatonya menjadi penutup yang relevan: “Mari kita wujudkan pendidikan bermutu untuk semua menuju Indonesia yang cerdas, maju, dan bermartabat.”

Ajakan ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tetapi juga oleh bagaimana kita mendidik generasi penerusnya.(*)

 

 

Penulis : Dziqriya Lissaada Mahasiswi AProdi PBSI UAD