Sudaryanto
Radarjambi.co.id-Siapa tak kenal Zainal Arifin Mochtar? Dosen sekaligus Guru Besar Hukum Tata Negara UGM itu kerap muncul di harian Kompas sebagai penulis artikel opini.
Siapa pula tak kenal Robertus Robert? Dosen sekaligus Guru Besar Sosiologi UNJ itu juga kerap muncul di majalah Tempo sebagai kolumnis. Kedua nama yang penulis sebutkan tadi memang penulis prolifik di bidangnya masing-masing. Terkait itu, apa dan bagaimana artikel opini ditulis oleh penulisnya?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI menyebutkan, artikel adalah karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai dalam majalah/surat kabar. Sedangkan opini adalah pendapat, pikiran, atau pendirian.
Dengan begitu, artikel opini dimaknai sebagai karya tulis di majalah/surat kabar yang memuat pendapat/pikiran penulis. Hal ini selaras dengan Suroso (2021) bahwa opini merupakan artikel dalam media massa yang membahas pokok persoalan.
Adapun tujuan ditulisnya artikel opini adalah sebagai wahana untuk menampung ide-ide, gagasan, serta pemikiran dan pandangan penulis tentang persoalan yang terjadi di masyarakat.
Contoh terkini, fenomena penolakan pihak sekolah terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG). Para guru, orang tua/wali siswa, komite sekolah, hingga pemerhati pendidikan dapat bersuara kritis atas penolakan MBG lantaran fakta keracunan pada siswa sekolah tertentu.
Peluang Menulis Artikel Opini
Peluang menulis artikel opini terbuka lebar bagi siapa pun, termasuk dosen dan mahasiswa. Peluang tersebut dapat ditemui pada surat kabar nasional dan lokal. Di level nasional, terdapat harian Kompas, Republika, Media Indonesia, dan majalah Tempo.
Di level lokal, terdapat harian Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, hingga Radar Jambi. Setidaknya, peluang menulis artikel opini per hari pada tiap-tiap surat kabar sebanyak 1-3 buah artikel opini.
Dosen dan mahasiswa memiliki peluang menulis artikel opini. Sebagai contoh, dosen FKIP menulis artikel opini tentang Pendidikan Kekhasan Jogjakarta (PKJ).
Melalui artikelnya itu, dosen FKIP menerangjelaskan konsep dan implementasi PKJ di sekolah pada tahun ajaran 2026/2027. Selain itu, diterangjelaskan pula harapan dan tantangan implementasi PKJ di sekolah yang bersifat multikultural.
Contoh lainnya, mahasiswa FKIP dapat menulis artikel opini tentang keikutsertaannya dalam perkuliahan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di sekolah/madrasah. Melalui artikelnya itu, mahasiswa FKIP berbagi pengalaman mengikuti PLP di sekolah/madrasah.
Di antaranya, pengalaman mengajar siswa di kelas, membuat bahan ajar, berkomunikasi dengan guru, dsb. Harapannya, para pembaca dapat mengetahui hal-ihwal pelaksanaan PLP di sekolah/madrasah.
Trik Menulis Artikel Opini
Ada empat trik menulis artikel opini. Pertama, pilihlah isu-isu aktual, faktual, dan sesuai dengan minat keilmuan penulis. Misalnya, mahasiswa PBSI yang memiliki minat keilmuan bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dapat memilih isu-isu aktual dan faktual.
Di antaranya, MBG di sekolah, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan Tes Kompetensi Akademik (TKA). Isu TKA dapat dibedah dari perspektif pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Kedua, tulislah artikel dengan cermat dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Saat menulis artikel opini, penulis dapat menggunakan sejumlah alat bantu kaidah kebahasaan, seperti KBBI VI versi daring (online) dan luring (offline), serta Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.
Sebagai contoh, penulis harus mengetahui bentuk baku (memengaruhi) dan bentuk tidak baku (mempengaruhi). Demikian halnya dengan legalisasi dan legalisir, serta mungkir dan pungkir.
Ketiga, berilah saran atau solusi terkait isu/topik artikel opini. Dalam artikel opini, sebaiknya diberikan saran atau solusi atas persoalan terkait. Terlepas dari saran atau solusi itu digunakan atau tidak oleh pengambil kebijakan, penulis tetap memberikan saran atau solusi di bagian akhir artikel opininya.
Dengan begitu, artikel opini yang ditulis akan berguna bagi pihak-pihak tertentu. Terutama bagi pengambil kebijakan di level pemerintah daerah/pusat.
Keempat, kirimlah artikel opini ke media massa yang menjadi target pengirimannya. Sebagai contoh, redaksi Kedaulatan Rakyat mensyaratkan artikel opini berjumlah 535-575 kata dan dikirimkan ke posel opinikr@gmail.com.
Sebagai penulis, kita menulis dan mengirimkan artikel opini sesuai dengan syarat tadi. Dengan demikian, peluang pemuatan artikel opini kita terbuka lebar. Selanjutnya, kita perlu konsisten dalam menulis artikel opini di masa-masa depan. (*)
Penulis : Sudaryanto, M.Pd., Dosen PBSI FKIP UAD; Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNY; Anggota PRM Nogotirto