Orang Tua Sebagai Rumah Aman Bagi Anak

Posted on 2026-06-08 20:54:26 dibaca 76 kali

Radarjambi.co.id-Anak tidak hanya membutuhkan rumah dalam bentuk bangunan, tetapi rumah secara psikologis sebagai tempat ia merasa diterima, didengar, dipeluk, dan aman menjadi dirinya sendiri.

Orang tua seharusnya menjadi rumah paling aman, bukan sekadar tempat pulang setelah sekolah, tetapi juga tempat anak berani menceritakan kegagalan, ketakutan, rasa malu, kebingungan, bahkan kesalahan yang pernah ia lakukan.

Menjadi rumah aman berarti kehadiran orang tua tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Banyak anak tinggal serumah dengan orang tua, tetapi tetap merasa sendirian.

Mereka diberi makan, disekolahkan, dan dipenuhi kebutuhan materi, namun tidak selalu diberi ruang untuk bicara. Anak yang sedang tumbuh sering kali membawa banyak pertanyaan: Apakah dirinya cukup baik? Apakah dicintai? Apakah boleh gagal dan tetap diterima?

Data kesehatan mental anak di Indonesia menunjukkan persoalan yang serius. Survei I-NAMHS 2022 mencatat sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9% mengalami masalah kesehatan mental.

Data yang sama juga sering diringkas bahwa satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.

Sementara, Kementerian Kesehatan RI 2026 menemukan sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala cemas dan 363.000 gejala depresi. Kurangnya dukungan emosional, pengabaian, kekerasan, komunikasi dingin, dan ketidakhadiran orang tua dapat memperberat luka batin anak.

Rumah aman dimulai dari kemampuan orang tua mendengar tanpa menghakimi. Saat anak bercerita, yang dibutuhkan bukan ceramah panjang, tetapi penerimaan. Kalimat sederhana seperti “Mama/Papa dengar dulu, ya” atau “Kamu pasti berat sekali mengalaminya” bisa membuat anak merasa tidak sendirian.

Anak yang terbiasa didengar akan lebih mudah terbuka, sementara yang selalu dimarahi belajar menyimpan perasaan sendiri dan mungkin mencari tempat lain yang belum tentu sehat untuk curhat.

Orang tua perlu menjadi sahabat sekaligus pembimbing. Kedekatan emosional membuat anak lebih mudah menerima aturan, batas, dan arahan. UNICEF menekankan pentingnya mendorong remaja mengungkapkan perasaan, meluangkan waktu bersama, dan menyelesaikan konflik secara dialogis.

Kedekatan ini bukan pelengkap, tetapi fondasi agar nasihat orang tua tidak terasa menekan.

Selain mendengar, orang tua harus peka terhadap kondisi anak. Setiap anak berbeda dalam tumbuh kembangnya. Ada yang cepat percaya diri, ada yang pemalu; ada yang mudah bercerita, ada yang butuh waktu lama membuka diri.

Perubahan kecil seperti sering menyendiri, mudah marah, kehilangan minat belajar, sulit tidur, atau tidak lagi menikmati hobi bisa menjadi sinyal. Orang tua yang peka akan memahami hal ini tanpa buru-buru memberi label negatif.

Keluarga harus menjadi ruang bebas dari kekerasan. Data SNPHAR 2024 menunjukkan 30,52% anak laki-laki dan 47,38% anak perempuan usia 13–17 tahun mengalami kekerasan fisik oleh orang tua atau kerabat.

Rumah aman adalah ketika anak terlindungi dari bentakan, pukulan, ancaman, perbandingan merendahkan, dan sikap dingin yang membuatnya merasa tidak berharga.

Menjadi sandaran anak juga berarti orang tua tidak menjadikan anak tempat pelampiasan emosi. Anak membutuhkan orang tua yang mampu meminta maaf ketika salah, bukan selalu merasa benar.

Permintaan maaf bukan menurunkan wibawa, tetapi mengajarkan anak bahwa hubungan sehat adalah yang mampu pulih setelah konflik.

Akhirnya, orang tua sebagai rumah aman membantu anak bertumbuh sesuai potensinya masing-masing. Anak tidak harus meniru ambisi orang tua. Ada anak berbakat akademik, seni, olahraga, bahasa, kepemimpinan, atau kepedulian sosial.

Tugas orang tua adalah mengenali benih itu, merawatnya, dan memberi arah agar berkembang dengan sehat. Anak yang dicintai tanpa syarat lebih berani mencoba, gagal, belajar, dan bangkit.

Rumah aman bukanlah rumah sempurna. Orang tua bisa lelah, bisa salah, dan bisa juga tidak sesuai harapan anak-anaknya. Namun, rumah aman selalu punya satu ciri penting: anak tahu bahwa sejauh apa pun ia berjalan, ada tempat yang tidak akan menolaknya.

Selelah apapun anak beraktivitas selalu ada pelukan, telinga, doa, dan kehadiran orang tua yang menjadi tempatnya pulang dan bersandar. Di sanalah anak belajar bahwa dunia boleh keras, tetapi ia tidak pernah benar-benar sendirian.(*)

 

 

 

Penulis: Hani Irawati, M.Pd Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Ahmad Dahlan
Copyright 2018 Radarjambi.co.id

Alamat: Jl. Kol. Amir Hamzah No. 35 RT. 22 Kelurahan Selamat Kecamatan Danau Sipin Kota Jambi, Jambi.

Telpon: (0741) 668844 / 081366282955/ 085377131818

E-Mail: radarjambi12@gmail.co.id