Radarjambi.co.id-Di tengah gencarnya kampanye penyelamatan lingkungan, banyak orang masih beranggapan bahwa perubahan harus dimulai dari langkah-langkah yang besar, seperti kegiatan seminar, aksi demonstrasi, atau kebijakan pemerintah yang ketat.
Cara-cara tersebut memang penting, dan terbukti mampu mendorong perubahan. Akan tetapi, di era digital saat ini muncul kekuatan lain yang bekerja secara sunyi dan sering kali luput dari perhatian, yaitu algoritma media sosial.
Tanpa panggung besar dan tanpa pengeras suara, algoritma mampu menentukan informasi apa yang dilihat masyarakat, isu apa yang diperbincangkan, dan kepedulian apa yang akhirnya tumbuh di ruang publik.
Di era digital, perhatian publik telah menjadi sumber daya yang tak kalah berharga dibandingkan sumber daya alam itu sendiri. Dalam hitungan detik, sebuah video mampu menjangkau jutaan orang, membentuk cara pandang, memengaruhi percakapan publik, hingga menggerakkan tindakan kolektif.
Karena itu, krisis lingkungan hari ini tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon, deforestasi, atau pencemaran, tetapi juga tentang perebutan perhatian manusia. Isu yang berhasil menembus layar masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk dibicarakan, diperjuangkan, bahkan memengaruhi kebijakan.
Sebaliknya, isu yang tenggelam di arus informasi digital sering kali luput dari kepedulian publik, meskipun dampaknya nyata bagi keberlangsungan lingkungan.
Gagasan ini sejalan dengan konsep attention economy yang berangkat dari pemikiran Herbert A. Simon (1971). Simon berpendapat bahwa melimpahnya informasi justru menciptakan kelangkaan perhatian manusia (a wealth of information creates a poverty of attention).
Dalam kondisi tersebut, perhatian menjadi sumber daya yang bernilai dan diperebutkan oleh berbagai pihak. Michael Goldhaber (1997) kemudian mengembangkan gagasan ini dengan menjelaskan bahwa di era digital perhatian telah menjadi komoditas utama yang menentukan visibilitas dan pengaruh suatu pesan.
Karena itu, keberhasilan isu lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pentingnya substansi yang dibawa, tetapi juga oleh kemampuannya menarik dan mempertahankan perhatian publik di tengah derasnya arus informasi digital.
Di sinilah komunikasi lingkungan menemukan medan barunya. Jika dahulu pesan-pesan lingkungan disebarkan melalui koran, baliho, atau seminar, kini pesan tersebut hadir melalui For You Page (FYP), video berdurasi singkat, tren viral, dan storytelling yang mampu menarik perhatian hanya dalam beberapa detik.
Hutan yang gundul, sungai yang tercemar, atau pantai yang dipenuhi sampah tidak lagi hanya menjadi data dalam laporan penelitian, tetapi dapat berubah menjadi narasi visual yang menyentuh emosi masyarakat dan mendorong mereka untuk bertindak.
Menurut Robert Cox (2013), komunikasi lingkungan tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kesadaran, persepsi, dan tindakan masyarakat terhadap isu-isu ekologis.
Dalam konteks media digital, fungsi tersebut bekerja melalui algoritma yang menentukan informasi apa yang muncul, seberapa sering informasi itu dilihat, dan siapa saja yang akan menerimanya. Dengan kata lain, algoritma tidak sekadar menjadi saluran distribusi pesan, tetapi juga berperan dalam membentuk perhatian publik terhadap lingkungan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan saat ini tidak cukup hanya menyampaikan fakta. Pesan juga harus dikemas dengan cara yang mampu bersaing dalam ekosistem digital yang sangat padat.
Isu perubahan iklim, misalnya, sering kali dianggap terlalu kompleks dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun melalui video singkat, visual yang kuat, dan cerita yang relevan, isu tersebut dapat terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Pandangan ini sejalan dengan konsep Sustainability Storytelling yang menekankan pentingnya narasi visual dalam membangun empati masyarakat terhadap alam. Sebuah cerita yang menyentuh sering kali lebih efektif daripada deretan angka statistik.
Ketika masyarakat dapat melihat langsung kondisi lingkungan melalui layar ponsel mereka, jarak psikologis antara manusia dan alam menjadi semakin kecil. Dalam situasi seperti ini, algoritma berfungsi sebagai pengeras suara yang membantu menyebarkan cerita tersebut kepada lebih banyak orang.
Salah satu contoh yang menarik dapat dilihat dari konten-konten yang dibuat oleh Pandawara Group. Ketika mereka mengangkat persoalan sampah di Pantai Cibutun, yang viral bukan hanya gambar tumpukan sampahnya, tetapi juga rasa tanggung jawab kolektif yang muncul setelahnya.
Dalam waktu singkat, isu yang sebelumnya bersifat lokal berubah menjadi perhatian publik yang lebih luas. Relawan berdatangan, masyarakat ikut terlibat, dan pemerintah memberikan respons terhadap persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan media digital tidak terletak pada kemampuannya menghasilkan konten semata, melainkan pada kemampuannya mengubah perhatian menjadi aksi nyata.
Dari langkah yang sederhana lahir perubahan yang besar, dari unggahan di media digital menjadi aksi sosial yang melibatkan masyarakat, relawan, hingga pemerintah. Fenomena tersebut mencerminkan bentuk nyata dari komunikasi lingkungan partisipatif, di mana masyarakat tidak lagi berperan sebagai penonton yang hanya menerima informasi, tetapi menjadi bagian dari solusi.
Sebuah video yang muncul di FYP mungkin hanya berdurasi beberapa detik, tetapi dampaknya dapat melampaui ruang digital ketika berhasil menggerakkan tindakan nyata di dunia nyata.
Meski demikian, mengandalkan algoritma bukan tanpa risiko. Algoritma media sosial pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan untuk menyelamatkan lingkungan. Akibatnya, isu lingkungan sering kali harus bersaing dengan berbagai konten hiburan yang lebih mudah menarik perhatian.
Bahkan, tidak sedikit isu penting yang hanya menjadi tren sesaat, viral hari ini, lalu dilupakan esok hari. Tantangan komunikasi lingkungan di era digital bukan hanya membuat orang peduli, tetapi juga menjaga agar kepedulian tersebut bertahan setelah layar ponsel dimatikan.
Oleh karena itu, masa depan komunikasi lingkungan tidak cukup hanya bergantung pada banyaknya informasi yang disebarkan. Yang lebih penting adalah bagaimana informasi tersebut dikemas agar mampu membangun kesadaran jangka panjang.
Di era ekonomi perhatian, keberhasilan sebuah isu lingkungan sering kali ditentukan oleh kemampuannya bertahan dalam percakapan publik. Ketika perhatian masyarakat bergerak, kebijakan dapat berubah, komunitas dapat terbentuk, dan aksi kolektif dapat terjadi.
Pada akhirnya, masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh seberapa ketat regulasi yang dibuat atau seberapa banyak pohon yang ditanam. Masa depan bumi juga ditentukan oleh bagaimana kita berbicara tentang lingkungan di ruang digital, bagaimana kita mengubah isu ekologis menjadi cerita yang relevan, dan bagaimana kita memanfaatkan algoritma untuk menyebarkan kesadaran, bukan sekadar hiburan.
Sebab di tangan generasi digital hari ini, FYP bukan lagi sekadar halaman rekomendasi konten. Ia telah menjadi ruang baru tempat perhatian dibentuk, kepedulian ditumbuhkan, dan masa depan lingkungan dipertaruhkan.(*)
Penulis : Khalifah Muhammad Rava Biryanto Mahasiswa UIN Suska Riau