Sekolah Tatap Muka Dimulai Juli 2021

Rabu, 21 Juli 2021 - 10:02:16


Desta Firnanda Wulandari
Desta Firnanda Wulandari /

Radarjambi.co.id-Demi memutus penyebaran virus corona, puluhan juta siswa  telah menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ ) selama setahun terakhir.

Di tahun 2021 telah dikabarkan bahwa  vaksinasi covid-19 pada  guru dan tenaga pendidikan  telah dimulai sejak  rabu 24,  februari, dan dilakukan  secara bertahap .

Terkait  hal tersebut MENDIKBUD Nadiem Makarim mengatakan “Pembelajaran  tatap muka dapat dilaksanakan pada juli 2021 dengan syarat  apabila vaksinisasi covid-19 pada guru selesai di akhir  bulan   juni”.

Walaupun demikian Nadiem menegaskan bahwa  para siswa dan Guru tetap menggunakan dan mematuhi protokol kesehatan dalam pembelajaran tatap muka berlangsung.

Guru dan tenaga pendidikan merupakan prioritas  vaksinasi tahap kedua karena siswa sudah terlalu lama tidak belajar  tatap muka disekolah .

Pembelajaran tatap muka disekolah tidak  100 persen dilakukan,karena vaksinisasi akan diberikan  terlebih dahulu untuk  guru sekolah dasar ,guru pendidikan anak usia dini,dan guru sekolah luar biasa.

Setelah itu baru diberikan kepada jenjang sekolah sekolah menengah   pertama ,sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan  dan terakhir  yaitu sekolah perguruan tinggi.

Karena resiko PJJ sangat besar untuk siswa maka KEMENDIKBUD mengambil tindakan dan solusi  yang efisien Proses tersebut dilakukan karena semakin mudah tinggal sekolahnya akan semakin sulit juga melakukan pembelajaran  jarak jauh

“Jadi esensinya itu, sekolah merupakan salah satu  sektor yang sampai sekarang belum tatap muka. Dan resiko dari pembelajaran jarak  jauh  ( PJJ ) yang terlalu  lama itu sangat besar”. Ujar Nadiem pada 24 februari 2021.

Karena PJJ menurut para siswa sendiri sangat tidak efektif dan menilai bahwa para siswa masih butuh kelas  tatap muka dengan guru yang memberikan pendidikan karakter pada siswa.

Kabar baik  pembelajaran tatap muka ini sangat diharapkan oleh orang tua wali terutama siswa-siswa yang menginginkan proses pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan.

Tak hanya itu pembelajaran jarak jauh  membuat beberapa  siswa di seluruh indonesia  mengeluhkan masalah dari PJJ itu sendiri, mulai dari masalah gadget/handphone ,kuota dan juga wilayah yang  tidak terjangkau internet.

Hal tersebut sangat memberatkan siswa yang  tidak mampu untuk membeli  handphone dan kuota untuk mengikuti sekolah daring.

Bagi siswa yang  tinggal di daerah plosok dan  tidak memiliki listrik  tentu menjadi kendala ,misal saja didaerah yang termasuk kota mungkin saja untuk menjamah internet sangat mudah dan harga kuota  dikota sangatlah terjangkau.

Jika  didaerah  yang sangat plosok mungkin harga kuota sangat mahal dan jaringan didesanyapun tidak ada dan jarang mencapai kecepatan 4G  .

Sewaktu PJJ dilaksanakan di akhir  tahun 2020, pemerintah mengusulkan bahwa  PJJ akan bersifat permanen, tentu kabar itu menjadi pro dan kontra bagi siswa dan wali murid.

“jika  sekolah mencari kepintaran , google lah yang lebih pintar, ya karena semua ada di google” ujar  salah satu siswa   yang  tidak setuju  jika daring bersifat  permanen. Tak hanya itu  orang  tua wali harus  menjadi guru dadakan saat anak-anak belajar  secara daring.

Dan juga  suasana hati  anak-anak yang menjalani pembelajaran  jarak  jauh pun harus dijaga, agar belajar dapat berjalan efisien .

Meskipun demikian mucul kemungkinan  bahwa  materi pembelajaran tidak tertangani dengan baik saat menggunakan metode pembelajaran jarak  jauh ini berlangsung.

Kemungkinan besar  dalam hal  sekolah  tatap muka yang akan di laksanakan pada  Juli 2021  membawa solusi  yang baik untuk peserta didik  dan  wali murid walaupun masih bersifat blended dalam hal lain  bisa disebut pembelajaran  campuran atau kombinasi antara daring dan luring. (***)

 

 

Penulis : Desta Firnanda Wulandari

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris UAD