EYD Adaptif

Rabu, 21 Desember 2022 - 20:57:02


Sudaryanto
Sudaryanto /

Keren! Itulah respons penulis saat membaca berita Badan Bahasa Luncurkan Aplikasi EYD. Diberitakan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbudristek meluncurkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.

Menurut Kepala Badan Bahasa, E. Aminuddin Aziz, EYD Edisi V menandai bahwa perkembangan Bahasa Indonesia makin pesat. Apa dan bagaimana manfaat EYD Edisi V?

Dari perspektif ilmu bahasa, ejaan adalah kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.

Ada beragam ejaan yang dikenal, seperti Ejaan van Ophuijsen (1901), Ejaan Wilkinson (1904), Ejaan Republik atau Ejaan Suwandi (1947), Ejaan Pembaharuan (1957), Ejaan Melindo (1959), Ejaan yang Disempurnakan (1972), dan terakhir, Ejaan Bahasa Indonesia (2015).

Lebih Adaptif

Di antara deretan ejaan itu, EYD-lah yang diterapkan paling lama, yaitu 43 tahun. Alhasil, di benak orang Indonesia lebih melekat istilah EYD daripada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Dilihat dari sejarahnya, EYD pertama kali diresmikan pada 1972 oleh (saat itu) Presiden Soeharto melalui Surat Keputusan Presiden No. 57, tanggal 16 Agustus 1972. EYD mengalami perbaikan pada edisi kedua (1987), edisi ketiga (2009), dan edisi keempat (2015).

Terkait itu, dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya, EYD Edisi V lebih bersifat adaptif. Pertama, dari segi wujud. EYD Edisi V berwujud aplikasi yang dapat diakses dengan gawai (gadget) dan komputer.

Penutur jati dan penutur asing akan dimudahkan dalam mengakses aplikasi EYD Edisi V, di mana pun dan kapan pun. Seperti halnya KBBI V yang bersifat daring (online) dan luring (offline), yang juga mudah diakses oleh siapa pun dan di mana pun.

Munculnya aplikasi EYD Edisi V dapat dimaknai bahwa Bahasa Indonesia dapat seiring sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi.

Aplikasi itu dapat diakses oleh siapa saja dengan mudah, termasuk penutur asing. Sebagai contoh, mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang, mengakses aplikasi EYD untuk mengerjakan tugas karangan dari dosennya.

Kedua, dari segi konten/isi. EYD Edisi V memuat dan memperkenalkan kosakata baru, seperti siniar.

Siniar merupakan padanan kata podcast dan memiliki arti ‘siaran (berita, musik, dan sebagainya) yang dibuat dalam format digital (baik audio maupun video) yang diunduh melalui internet’. Sejak terjadi pandemi Covid-19, tak sedikit orang membuat acara siniar, seperti Dedy Corbuzier, Puthut EA, dan Halim HD.

Selain kata siniar, ada pula penambahan uraian monoftong (dua buah vokal yang diucapkan menjadi vokal tunggal), seperti eu.

Vokal eu banyak dijumpai pada kosakata Sunda dan nama-nama daerah di Jawa Barat, seperti peuyeum, deukeut, hareup, Cicaheum, dan Leuwipanjang. Berikutnya, ada penulisan bentuk terikat pada sifat Tuhan, seperti Maha. Pada kaidah sebelumnya ditulis secara terangkai, kini ditulis secara terpisah, seperti Maha Esa dan Maha Kuasa.

Menuju Literat

Di samping bersifat adaptif, aplikasi EYD Edisi V diharapkan dapat menunjang kemampuan literasi para penggunanya. Bagi penutur jati, aplikasi EYD Edisi V dapat membantu dirinya lebih cermat dalam menulis sebuah tulisan.

Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan jauh dari salah tik (saltik; typo) dan kesalahan lainnya. Hal itu penting, mengingat tak sedikit skripsi mahasiswa S-1 masih memuat saltik dan kesalahan lainnya.

Bagi penutur asing, aplikasi EYD Edisi V dapat meningkatkan kemampuan dirinya dalam penguasaan Bahasa Indonesia. Uraian tentang huruf, kata, tanda baca, dan unsur serapan dalam aplikasi EYD Edisi V mudah dipahami.

Mudah-mudahan hal itu dapat membantu penutur asing saat mengikuti tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) secara daring. Dengan demikian, kehadiran aplikasi EYD Edisi V dapat menjadikan penutur jati dan asing sebagai orang literat. (*)

 

Penulis  : Sudaryanto, M.Pd., Dosen PBSI FKIP UAD; Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNY