Merantau Demi Pendidikan

Senin, 10 April 2023 - 12:13:43


Cici Laila Sukma
Cici Laila Sukma /

Radarjambi.co.id-Merantau akan memberikanmu banyak pengalaman hidup.
Pergilah sejauh mungkin, tetapi jangan sampai lupa pulang.

Merantau adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat Indonesia, yang dilakukan oleh berbagai suku bangsa.

Merantau bisa dikatakan pergi ke suatu tempat atau daerah yang jauh dari kampung halamanya.

Pergi merantau disini bukan hanya untuk sesuatu yang tidak jelas, tetapi memiliki tujuan yang pasti seperti mencari pekerjaan atau mencari ilmu yang lebih baik dari kampung halaman. – Meygi Mansyah P
Perjuangan anak rantau di tempat perantauan bisa menjadi inspirasi untuk kalian semua agar tetap semangat dan bersyukur menjalani hidup.

Merantau bukanlah salah satu hal yang sangat mudah, kita akan merasakan jauh dari orang tua dan dituntun menjadi seorang yang harus mandiri, merantau juga bisa menyadarkan kita dengan menumbuhkan rasa percaya diri.

Dengan perginya merantau juga bisa untuk menemukan jati diri, mencari pengalaman lalu mengenal nilai-nilai hidup di luar kampung halaman dan mengenal budaya yang ada di kota tersebut, untuk mencari ilmu di lingkungan yang berbeda dan budaya yang berbeda.

Dengan menjadi seorang gadis rantau harus memiliki nilai-nilai yang diterapkan ketika merantau yaitu mandiri, karena ketika di tanah perantauan tidak memiliki saudara.

Menurut saya, sebagai gadis rantau harus bisa untuk mengurus diri sendiri dimulai dari uang bulanan maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebagai seorang mahasiswa harus bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dan sungguh-sungguh agar tidak membuat orang tua kecewa kepada anaknya.

Kalau saya tidak kuliah, tidak akan tau rasanya menjadi anak rantau, mengerjakan tugas kuliah yang terkadang susah, bingung pulang kuliah mau sarapan apa.

Semangat gadis rantau

Saya adalah seorang gadis yang berasal dari Lampung yang akan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan.

Dan memiliki keyakinan yang dipegang ketika memutuskan akan pergi keluar kota sebagai ajang pembuktian bahwa dengan pergi meninggalkan kampung halaman, akan membuat diri menjadi lebih mandiri dari pada sebelumnya dan tidak lagi bergantung kepada orang tua, karena di perantauan harus menghadapinya sendiri.

Ketika sukses di perantauan lalu pulang ke kampung halaman berharap bisa menggunakan ilmu yang didapatkan selama merantau di Yogyakarta dan membuktikan kepada orang tua bahwa gadisnya bisa melawan semua rintangan selama menjadi anak rantau.

Awal merantau rasanya kesepian di kamar indekos hanya seorang diri dan selalu menangis di malam hari mikir bagaimana besok ke depanya.

Tetapi dengan dukungan dan semangat orang tua yang selalu diucapkan bakalan bisa melewati semuanya.

Di awal akan menjadi seorang gadis rantau merasa sangat berat untuk meninggalkan rumah, kamar, saudara dan orang tua tentunya.

Pernah awal masuk membayangkan tidak akan mendapatkan teman ternyata ekspektasi saya salah ternyata malah menemukan keluarga kedua di tanah perantauan.

Tak lupa juga rasa syukur bisa merasakan bangku perkuliahan.

Keluarga kedua

Memiliki teman yang berbeda daerah adalah suatu memupuk rasa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Dan jangan membeda-bedakan apalagi memilih yang mana harus di ajak berteman, janganlah menghina suku dan budaya mereka karena kita adalah Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Memiliki 2 teman yang akrab dan bisa disebut sebagai seorang sahabat yang selalu memberi semangat setelah kedua orang tua saya, selalu mengingatkan jika saya berbuat kesalahan.

Terkadang mereka juga melakukan kesalahan tetapi di lain sisi mereka adalah sahabat terbaik buat saya karena selalu memberikan semangat dikala saya jatuh.

Kita kadang juga suka berbeda pendapat, bingung mau makan apa, masak apa.

Pagi hari yang selalu saja terjadi kehebohan. Saat akan berangkat kuliah kami selalu saling tunggu dan berangkat bersama.

Di kampus pun kami selalu memilih tempat duduk berjejer. Di indekos ketemu mereka karena satu indekos, di kampus ketemu mereka, main pun kadang bersama-sama tapi tidak merasa bosan kepada mereka yang setiap hari bertemu.(*)

Penulis : Cici Laila Sukma, Mahasiswa S-1 Pend. Bahasa
Indonesia dan Sastra Indonesia, FKIP UAD