Radarjambi.co.id-Saat menempuh studi S-1 dulu, penulis memilih peminatan kuliah jurnalistik. Peminatan itu akhirnya membawa penulis berkenalan dengan sejumlah wartawan di Yogyakarta. Misalnya, almarhum Pak Arwan Tuti Artha, wartawan senior harian Kedaulatan Rakyat.
Kemudian Pak Suroso, wartawan senior harian Bernas. Dan, yang lebih muda, Mas Fernan, wartawan harian Republika. Dari interaksi dengan mereka, ada banyak pelajaran yang dapat dipetik.
Pertama, wartawan umumnya lulusan sarjana/S-1. Sebagai contoh, Mas Fernan merupakan lulusan S-1 Ilmu Komunikasi UGM.
Tentu, karena wartawan umumnya lulusan sarjana/S-1 dianggap memiliki kemampuan membaca, menulis, dan bernalar secara baik.
Setidaknya, ketiga kemampuan tadi teruji lewat penulisan tugas akhir berupa skripsi. Selain itu, kemampuan serupa juga teruji dalam tugas-tugas perkuliahan yang dilaluinya dulu.
Proaktif
Di jenjang sarjana/S-1, kemampuan membaca, menulis, dan bernalar mulai tumbuh. Mahasiswa S-1 didorong proaktif untuk mengembangkan ketiga kemampuan tadi.
Untuk itu, selama perkuliahan S-1, dosen meminta mahasiswa banyak membaca, menulis, dan bernalar. Membaca buku, artikel jurnal, buletin, majalah, hingga skripsi di perpustakaan. Kemudian menulis resensi buku, opini, esai, berita, hingga berdiskusi antarkolega.
Kedua, wartawan umumnya suka membaca, menulis, dan berdiskusi. Terkait butir pertama, keterampilan membaca, menulis, dan berdiskusi tumbuh pada profesi wartawan. Dalam membaca, seorang wartawan menyerap segala informasi yang diperoleh.
Dalam menulis, seorang wartawan menuangkan segala data dan fakta yang didapatkan. Dalam berdiskusi, seorang wartawan berbagi informasi dengan koleganya. Dari situ, wartawan mampu menulis berita secara baik.
Bahkan, berkat keterampilan membaca, menulis, dan berdiskusi itu, wartawan juga mampu menghasilkan karya. Contohnya, Mas Wisnu Nugroho, wartawan harian Kompas yang pernah bertugas liputan di Istana Presiden, berhasil menerbitkan tetralogi buku Pak Beye dan Istananya.
Buku itu memotret hal-hal unik pada diri (mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terutama pada periode pertamanya (20042009).
Ketiga, sebagian besar wartawan juga berprofesi sebagai penulis. Selaras dengan butir pertama dan kedua, wartawan lekat dengan budaya literasi.
Budaya literasi meniscayakan adanya kegiatan membaca dan menulis. Dua kegiatan itu lekat dengan profesi penulis.
Kita kenal sejumlah nama wartawan sekaligus penulis terkenal, seperti Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Goenawan Mohamad, Fadmi Sustiwi, Jayadi Kastari, dan Triyanto Triwikromo.
Kita ulas per nama. Putu Wijaya pernah menjadi wartawan Tempo sekaligus penulis naskah drama dan cerita pendek. Seno Gumira Ajidarma pernah menjadi wartawan Jakarta Jakarta sekaligus penulis cerita pendek, puisi, novel, kolom, dan fotografi.
Taufik Ikram Jamil pernah menjadi wartawan harian Kompas sekaligus penulis cerita pendek, puisi, dan novel. Goenawan Mohamad pernah menjadi wartawan Tempo sekaligus penulis puisi dan kolom Catatan Pinggir.
Fadmi Sustiwi dan Jayadi Kastari masih menjadi wartawan harian Kedaulatan Rakyat sekaligus penulis opini dan cerita pendek. Terakhir, Triyanto Triwikromo masih menjadi wartawan harian Suara Merdeka sekaligus penulis cerita pendek, puisi, novel, dan esai.
Singkat kata, sebagian besar wartawan juga menekuni bidang tulis-menulis. Hal itu wajar, mengingat kerja wartawan lekat dengan dunia literasi—kegiatan membaca dan menulis.
Profesi Berjenjang
Keempat, wartawan merupakan profesi karier yang berjenjang. Saat rekrutmen awal, seorang wartawan muda menjadi reporter dulu.
Setelah berpengalaman menjadi reporter, kemudian beralih menjadi redaktur/redaksi desk/bidang.
Di majalah Tempo, misalnya, ada wartawan rutin menulis isu hukum dan kriminal, isu perjalanan dan gaya hidup, serta isu ekonomi dan finansial. Pelan tapi pasti, wartawan akan menjadi redaksi senior atau redaksi utama.
Berdasarkan uraian di atas, kita peroleh simpulan. Seorang wartawan umumnya lulusan S-1, suka membaca, menulis, dan berdiskusi, serta menjadi penulis. Juga wartawan merupakan sebuah profesi karier berjenjang.
Ia dirintis dari reporter hingga redaktur senior. Sebagai penutup, kita renungi kata-kata Adlai Stevenson, politisi AS. Ia berkata, wartawan tak hidup hanya dengan kata-kata, meskipun terkadang mereka harus memakannya. Sehat selalu wartawan kita!(*)
Penulis: Sudaryanto, M.Pd., Dosen PBSI FKIP UAD; Pernah aktif di LPPM Kreativa FBS UNY (2003-2005); Anggota PRM Nogotirto