Membangun Resiliensi Bahasa Ibu

Selasa, 24 Februari 2026 - 21:43:38


Sudaryanto
Sudaryanto /

Radarjambi.co.id-Kita mensyukuri dan merayakan hadirnya Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) pada 21 Februari 2026. Adapun tema HBII 2026 adalah “Many Languages, One Future: Youth Voice on Multilingual Education”.

Lewat perayaan HBII, kita berefleksi tentang eksistensi bahasa ibu/bahasa daerah di Tanah Air. Ada 718 bahasa daerah di Indonesia (versi Badan Bahasa, 2026). Pertanyaannya kini, bagaimana strategi membangun resiliensi bahasa ibu di Indonesia?

Secara definisi, bahasa ibu bermakna ‘bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya’ (KBBI VI, 2025).

Berkat definisi itu, sejumlah pakar menjelaskan bahwa bahasa ibu sama dengan bahasa daerah. Di Indonesia, terdapat 718 bahasa ibu/bahasa daerah yang aktif digunakan oleh para penuturnya.

 Kesadaran Keragaman Bahasa

Terkait itu, melalui perayaan HBII 2026, UNESCO mengajak kita untuk meningkatkan kesadaran diri (awareness) akan keragaman bahasa dan budaya, serta multibahasa. Jika ada 718 bahasa ibu/bahasa daerah, kelak ada 718 budaya yang khas dan unik.

Dengan begitu, bila ada satu bahasa ibu/bahasa daerah yang punah, kelak ada satu budaya yang punah pula. Untuk itulah, penting kiranya kita membangun resiliensi atau ketangguhan bahasa ibu/bahasa daerah.

Ada empat komponen dalam membangun resiliensi bahasa ibu/bahasa daerah. Pertama, kekuatan internal. Pemerintah dan masyarakat Indonesia bertanggung jawab dan terus berikhtiar atas pelestarian bahasa ibu/bahasa daerah.

Badan Bahasa melaksanakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tiap tahunnya. Mata pelajaran bahasa daerah masih dilaksanakan di sekolah/madrasah. Sejumlah perguruan tinggi (PT) masih memiliki jurusan pendidikan bahasa daerah.

Kedua, sumber daya eksternal. Sejumlah Indonesianis/ahli Indonesia konsisten mengajar, meneliti, dan mempromosikan bahasa ibu/bahasa daerah. Profesor George Quinn mengajar bahasa dan budaya Jawa di Australian National University, Australia. Profesor Mikihiro Moriyama mengajar bahasa dan budaya Sunda di Nanzan University, Jepang. Keduanya, diakui atau tidak, memiliki jasa yang besar terhadap promosi bahasa Jawa dan bahasa Sunda di luar negeri.

Ketiga, kemampuan adaptasi. Penutur bahasa ibu/bahasa daerah memiliki kemampuan adaptasi dengan tuntutan teknologi. Sebagai contoh, Balai Bahasa Provinsi DI Yogyakarta merilis Kamus Bahasa Jawa-Indonesia (KBJI) daring dan luring. Contoh lainnya, Kundha Kabudayaan DIY meluncurkan digitalisasi aksara Jawa. Pendek kata, digitalisasi bahasa ibu/bahasa daerah beserta budayanya dapat diintegrasikan dengan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI).

Keempat, kontrol diri. Penutur bahasa ibu/bahasa daerah memiliki kontrol diri atas kemampuan berbahasanya. Kontrol diri itu berdampak terhadap faktor kebiasaan dan lingkungan keluarga/komunitas. Misalnya, meski pernah berada di Cina, penulis tetap bisa berbahasa Jawa karena ada komunitasnya. Kebiasaan berbahasa ibu/daerah, baik secara lisan maupun tulisan, tetap berkembang seiring dengan lingkungan keluarga/komunitas.

Peduli Bahasa Ibu

Berkat empat komponen di atas, resiliensi bahasa ibu/bahasa daerah bertumbuh dengan optimal. Optimalisasi resiliensi bahasa ibu/bahasa daerah didukung atas tiga hal, yaitu bidang hukum, pendidikan, dan sosial.

Bidang hukum meniscayakan regulasi yang mengatur bahasa daerah, seperti UU No. 24 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2014, Perda Provinsi Jawa Barat No. 14 Tahun 2014, dan lainnya.

Bidang pendidikan meniscayakan kreativitas dan inovasi pembelajaran bahasa daerah di PT atau Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) dan sekolah/madrasah. Terakhir, bidang sosial meniscayakan keterlibatan pemerintah dan masyarakat untuk peduli terhadap bahasa ibu/bahasa daerah.

Misalnya, di Bandung pernah ada Rebo Nyunda (hari Rabu berbahasa Sunda). Atau, di Yogyakarta ada Kamis Pon untuk aktif berbudaya dan berbahasa Jawa.(*)

 

Penulis : Sudaryanto, M.Pd. Dosen PBSI FKIP UAD; Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNY