Wujudkan Program Emak-Emak Berdikari, Pemkab Muarojambi Berikan 671 Izin Gratis UPPKA

Senin, 20 Juli 2026 - 11:57:28


/

Radarjambi.co.id-MUAROJAMBI-Salah satu program yang diusung pemerintah Kabupaten Muarojambi Bupati Bambang Bayu Suseno (BBS) dan Wakil Bupati Junaidi H Mahir (Jun Mahir) yaitu Emak-Emak Berdikari,melalaui Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33, (20/07) Pemkab Muarojambi memberikan 671 izin gratis yang diperuntuhkan untuk emak-emak berdikari di Muarojambi atau emak-emak yang mempunyai UPPKA Usaha Peningkatan Perekonomian Akseptor KB yang merupakan program Dinas Pengendalian Pendudukan Keluarga Berencana Kab. Muaro Jambi.

Perizinan tersebut meliputi Pangan industri Rumah Tangga (PIRT) 347 sertifikat, No Induk Berusaha (NIB) 159 Perizinan dan Sertifikat Halal 16 Perizinan. Selain itu Pemkab Muarojambi juga memberikan 50 paket bantuan untuk anak stunting dan pemberian penghargaan kampung KB Tingkat Kabupaten Muarojambi pada 4 Desa, Terbaik I Desa Bukit Makmur Kecamatan Sungai Bhar, Terbaik II, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Terbaik III Desa Sekumbung, Kecamatan Taman Rajo dan Terbaik IV Rumah Data Kependudukan Tangkit Emas, Kecamatan Sungai Gelam.

Wakil Bupati Muarojambi Junaidi H Mahir yang menjadi inspektur upacara membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji mengatakan saat ini kita berdiri di panggung peradaban modern yang bergerak cepat, sebuah Era VUCA— sebuah lanskap global yang dicirikan oleh gejolak/perubahan cepat (Volatility), ketidakpastian (Uncertainty), kerumitan (Complexity), dan kebingungan arah (Ambiguity).

''Hari ini, disrupsi teknologi digital dan pergeseran nilai sosial masuk tanpa permisi ke ruang keluarga melalui gawai di genggaman anak-anak kita. Jika institusi keluarga rapuh, arus zaman ini akan dengan mudah menggilas masa depan mereka. Maka, ketangguhan keluarga bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional. Ketangguhan keluarga ini berkorelasi linear dengan masa depan Indonesia,'' sebutnya

''Kita sedang berada di jendela peluang historis: Bonus Demografi. Ini merupakan peluang yang bisa melesatkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Namun kondisi ini bisa berubah menjadi bencana demografi—ledakan pengangguran dan runtuhnya stabilitas sosial—jika ledakan usia produktif ini tidak berkualitas. Oleh karena itu, transformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak boleh ditunda, dan itu tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, melainkan dari dalam rahim ibu dan pengasuhan keluarga,'' ujarnya.

Untuk mengapitalisasi bonus demografi tersebut, harus memperkuat tiga pilar utama pembangunan keluarga: Pertama, Kesehatan. Yaitu harus menuntaskan stunting. Anak yang terhambat perkembangan otaknya akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan. Pemenuhan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan nasional di setiap dapur keluarga. Kedua, Pendidikan Karakter.

Jadikan rumah sebagai madrasah abad 21. Di sinilah integritas, kejujuran, dan kedisiplinan ditanamkan untuk mencetak manusia adaptif dan kolaboratif. Ketiga, Ketahanan Mental. Jadilah pelabuhan emosional yang stabil di tengah era yang penuh tekanan, agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan tidak mudah menyerah.

''Kehadiran fisik dan kedekatan emosional Anda adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country—di mana Ayah hadir secara fisik, namun absen secara psikologis. Kekosongan ini sering kali digantikan oleh musuh di dalam rumah: gawai. Jangan biarkan masa depan dan pola pikir anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Wahai para Ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anakanakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu layar (screen time) mereka pada hal-hal yang produktif,'' sebut Wabup.

Ia menambahkan, kelalaian pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan hari ini. Tawuran antarpelajar, perundungan (bullying), pergaulan bebas, hingga cengkeraman narkoba adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malafungsi. Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah, sehingga mencari pelarian semu di jalanan.

''Oleh karena itu, saya mengimbau seluruh orang tua: Tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri! Jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku. Benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan, sehingga ke mana pun anak kita melangkah, menjadi magnet kehangatan,'' timpalnya.(akd)