UIN di Era AI: Masih Relevankah Membelah Ilmu Agama dan Sains?

Minggu, 04 Oktober 2026 - 10:20:35


/

Radarjambi.Co.Id - Judul buku: Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-Modernisme Penulis: Suaidi Asyari Penerbit: PT RajaGrafindo Persada Tahun: 2026 Tebal: 644 halaman

Kecerdasan buatan sedang mengubah hampir semua bidang kehidupan. Dokter mulai bekerja bersama algoritma dalam membaca hasil pemeriksaan. Guru dan dosen menghadapi mahasiswa yang dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Dunia usaha menggunakan mesin untuk memprediksi perilaku konsumen. Negara berhadapan dengan perang siber, manipulasi informasi, dan pertarungan penguasaan data.

Pertanyaannya, masih relevankah universitas membelah ilmu agama dan sains ketika masalah yang dihadapi manusia justru semakin tidak mengenal batas disiplin?

Pertanyaan itu menjadi salah satu pintu masuk yang menarik untuk membaca buku Suaidi Asyari, Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post- Modernisme.

 Buku setebal 644 halaman ini lahir dari kegelisahan terhadap dikotomi ilmu, tetapi bergerak jauh melampaui perdebatan klasik “ilmu agama versus ilmu umum”.

Yang dipersoalkan bukan lagi hanya hubungan dua rumpun ilmu tersebut. Persoalannya adalah 

apakah arsitektur pengetahuan yang kita miliki masih memadai untuk menghadapi dunia yang berubah sangat cepat.

AI Tidak Mengenal Batas Fakultas Ambil kecerdasan buatan sebagai contoh.

AI tentu memerlukan matematika, statistika, ilmu komputer, dan rekayasa perangkat lunak. Tetapi begitu AI digunakan dalam kehidupan manusia, persoalannya segera bergerak keluar dari laboratorium teknologi.

Siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma menghasilkan keputusan yang merugikan manusia? 

Bolehkah AI menggantikan sebagian fungsi dokter? Bagaimana jika mesin mengetahui kondisi kesehatan seseorang sebelum keluarganya mengetahuinya? Siapa pemilik data manusia? Bagaimana hukum menggunakan karya yang dihasilkan mesin? Sampai sejauh mana mahasiswa boleh menggunakan AI dalam penulisan akademik?

Pada titik itu, ilmu komputer membutuhkan hukum. Hukum membutuhkan etika. Etika berhadapan dengan filsafat. Filsafat bersentuhan dengan agama. Semuanya harus kembali berhadapan dengan data empiris dan realitas masyarakat.

Itulah dunia transintegratif, bahkan sebelum kita menyebutnya “transintegrasi”.

Masalahnya, universitas sering masih bekerja dengan logika lama: persoalan dibagi berdasarkan fakultas, disiplin dipagari oleh program studi, dan dosen memperoleh pengakuan akademik terutama dari komunitas ilmunya masing-masing.

Dunia sudah berubah menjadi lintas disiplin. Universitas justru masih sibuk menjaga perbatasan disiplin.(*)