Darurat Sampah di Kota Baru

Senin, 30 Oktober 2023 - 21:14:40


/

Radarjambi.co.id-Sampah adalah sisa buangan dari suatu produk atau barang yang sudah tidak digunakan lagi , tetapi masih dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai.

Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan. Sampah dibagi menjadi 2 yaitu :sampah organik dan sampah anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai contohnya : nasi, kulit buah, buah, sayuran busuk dan ampas teh atau kopi.

Sampah anorganik adalah sampah yang sudah tidak dipakai lagi dan sulit terurai contohnya : plastik, botol, kaleng minuman,ban bekas, besi dan kaca.

Jumlah sampah tergantung pada aktivitas penduduk dan kepadatan penduduk. Semakin padat jumlah penduduk, maka sampah akan semakin menumpuk karena tempat atau ruang untuk menampung sampah semakin sedikit.

Kebiasaan masyarakat juga menjadi penyebab menumpuknya sampah, contohnya jika seseorang suka mengonsumsi suatu jenis makanan maka sampah makanan itu akan meningkat. Penyebab lain yaitu kemajuan teknologi, contohnya adanya plastik, kardus, rongsokan AC, TV, kulkas dan sebagainya.

Penumpukan sampah mempunyai beberapa dampak, diantaranya dampak terhadap Kesehatan yaitu sampah dapat menjadi tempat berkembang biaknya faktor penyakit seperti lalat, kecoa dan tikus.

Dampak terhadap lingkungan yaitu estetika lingkungan menjadi kurang enak dipandang mata dan menimbulkan bau busuk.

Pembakaran sampah dapat menimbulkan polusi udara dan apabila musim hujan datang, sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada sumber air.

Penyebab terjadinya penumpukan sampah di Kotabaru ini diakibatkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penanganan dan pengelolaan sampah.

Menanggapi kondisi tersebut, Beny Suharsono selaku Sekretaris Daerah (Sekda) DIY mengakui upaya desentralisasi pengolahan sampah di DIY belum berjalan secara optimal.

Ironisnya lagi, tumpukan sampah yang menggunung menimbulkan bau menyengat dan kerubungan lalat yang berada tepat di depan rumah salah seorang warga setempat.

Pemilik rumah tersebut, Suryo Kumoro mengaku terganggu dengan tumpukan limbah yang dia sendiri tidak mengetahui siapa oknum yang membuang di sana
Suryo berkata dalam sebuah artikel Tribun Jogja (24/07/2023) “Bukan punya saya (sampahnya), banyak yang naik motor terus buang sampah di situ.

Sepertinya juga bukan warga sekitar. Jadi dilempar begitu saja, makanya terus terang ini mengganggu banget. Tumpukan sampah mulai bau terus dirubung lalat juga“.

Kondisi itu memunculkan protes dikalangan warga yang meluapkannya dengan memasang spanduk bertuliskan ‘Warga menolak membuang sampah disini’.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah penumpukan sampah yaitu dengan mengadakan alat pemusnah sampah seperti di Banyumas.

Alat ini terdiri dari 2 mesin, yakni mesin pertama merupakan pencacah sampah yang menghasilkan sampah berukuran kurang lebih 5cm, kemudian dimasukkan ke mesin ke 2, sebagai mesin pemilah sampah yang menghasilkan sampah organic yang berupa bubur dan residu

Cara lain untuk mengatasi penumpukan sampah yaitu dengan mendaur ulang sampah menjadi barang atau kerajinan yang bermanfaat.

Misalnya botol bekas diubah menjadi vas bunga, sedotan menjadi bunga, bungkus minuman sachet dijadikan kerajinan tangan seperti tas dan dompet, karung goni dijadikan sebagai tas , cangkang telur dijadikan hiasan dinding.

Gubernur DIY Hamengku Buono X menanggapi polemik sampah yang masih terjadi di Kota Jogja.Hamengku Buono X mengatakan masalah sampah sejatinya sudah menjadi tanggung jawab masing-masing wilayah.

Salah satunya dengan melakukakan desentralisasi pengolahan secara mandiri. “Itu bagiane Kota Jogja, saya ingatkan untuk kebersihan bisa di angkut”. jelasnya dalam artikel Radar Jogja (10/10/2023).

Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dalam agama disebutkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Kebersihan adalah hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap orang yang tinggal di dalam lingkungan.

Lingkungan yang bersih menciptakan rasa kenyamanan serta Kesehatan bagi setiap individu yang tinggal di dalamnya. Bayangkan saja seandainya lingkungan yang anda tinggali kotor, maka rasa tidak nyaman akan menghampiri.

Kemungkinan timbulnya penyakit lebih besar dibandingkan dengan lingkungan yang bersih. Maka pentingnya kesadaran masyarakat merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam penanggulangan kasus peningkatan sampah ini.(*)

 

Penulis:Nazilda Agustina dan Onyh Marlina.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UAD