Memperkuat Eksistensi Bipa

Selasa, 11 Juni 2024 - 11:46:31


Sudaryanto
Sudaryanto /

Radarjambi.co.id-Penyebarluasan penutur Bahasa Indonesia di luar negeri telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Jumlah pemelajar Bahasa Indonesia, seperti disebutkan Kepala Badan Bahasa, E. Aminuddin Aziz, mencapai 152.000 per September 2022.

Jumlah itu bisa jadi mengalami penambahan saat ini. Terkait itu, muncullah pertanyaan kritis: apa dan bagaimana cara agar eksistensi Bahasa Indonesia di luar negeri kian kokoh?
Menjawab pertanyaan di atas, salah satu cara agar eksistensi Bahasa Indonesia di luar negeri kian kokoh adalah memperkuat eksistensi bidang Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA).

Di Indonesia, topik BIPA mulai dikenal di era 1990-an, terutama dalam Kongres Bahasa Indonesia (KBI) ke-VI (1993) di Jakarta.

Tak lama berselang disusul Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) ke-I (1994) di Salatiga, Jawa Tengah.

Eksistensi BIPA

Di Indonesia pula, BIPA telah menjadi mata kuliah peminatan di sejumlah kampus, seperti UAD, UNS, UNY, UPI, dan USD. Sejak jenjang S-1, mahasiswa telah berminat terhadap bidang BIPA.

Kemudian minat itu dapat terus dilanjutkan untuk jenjang S-2 dan S-3. Khusus jenjang S-2, UPI telah memiliki program studi Pendidikan BIPA.

Tak hanya itu, Universitas Negeri Semarang (Unnes) telah memiliki Pusat Studi Kajian BIPA yang dinakhodai oleh Wati Istanti.

Terkait itu, pelbagai kampus di Indonesia telah memiliki kerja sama dengan universitas di luar negeri yang memiliki Jurusan/Departemen Bahasa Indonesia. Sebagai bukti, UAD telah mengirimkan pengajar BIPA ke Guangxi University for Nationalities (GXUN), Cina.

Bukti lainnya, UGM telah juga mengirimkan pengajar BIPA ke Tokyo University of Foreign Studies (TUFS),

Jepang. Ini bukti bahwa PTS dan PTN sama-sama memperkuat eksistensi BIPA selama ini.

Di luar negeri, eksistensi BIPA telah berlangsung lama. Di Cina, misalnya, Jurusan Bahasa Indonesia telah dibuka di Universitas Peking sejak tahun 1950.

Setahun sebelumnya, jurusan itu masih bernama Jurusan Bahasa dan Budaya Melayu. Hingga kini, telah berdiri 10 kampus di Cina yang telah membuka Jurusan Bahasa Indonesia.

Eksistensi BIPA di Cina sempat vakum lama pada masa Orde Baru karena mahasiswa Cina tidak bisa belajar di Indonesia saat itu.

Di negara-negara lainnya, seperti Australia, Belanda, Rusia, dan Korea, eksistensi BIPA mengalami pasang surut. Di Australia, misalnya, jumlah mahasiswa peminat Bahasa Indonesia kian lama kian menurun.

Untungnya, masih ada Prof. George Quinn yang masih bersedia mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di Universitas Nasional Australia (ANU).

Masih ada pula Tata Survi yang mengelola Balai Bahasa Perth dan sejumlah Indonesianis lainnya.

Potret serupa kita jumpai di Belanda. Di Negeri Kincir Angin itu, jumlah mahasiswa peminat Bahasa Indonesia di Universitas Leiden kian berkurang.

Belum lagi adanya sejumlah Indonesianis yang sudah pensiun, seperti E. M. Uhlenbeck, A. Teeuw, dan Hein Steinhauer.

Semoga saja bertumbuh para Indonesianis muda di Belanda sebagai pengganti ketiga nama besar itu. Harapan serupa juga terwujud nyata di Australia, Rusia, dan Korea.

Mencintai Bahasa Nasional
Apabila eksistensi BIPA di luar negeri sedemikian kuat, lantas apa yang perlu kita lakukan di dalam negeri? Jawabannya: mari kita lebih mencintai bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia. Wujud cinta kita terhadap Bahasa Indonesia dapat terekspresikan melalui beberapa ikhtiar.

Pertama, pihak pemerintah dan masyarakat Indonesia bahu-membahu dalam menyukseskan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia.

Kedua, pihak perguruan tinggi (PT) dan Kemendikbudristek dapat menambah jumlah program studi S-2 dan S-3 peminatan BIPA dan/atau pendidikan BIPA. Ketiga, pihak PT,

Kemendikbudristek, dan Kemenlu membuka kembali program Beasiswa Darmasiwa bagi mahasiswa asing yang berminat belajar bahasa dan budaya Indonesia selama setahun.

Semoga saja ikhtiar-ikhtiar itu dapat terus memperkuat eksistensi BIPA kini dan mendatang.(*)

 

 

 

Penulis : Sudaryanto, M.Pd., Dosen PBSI FKIP UAD; Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNY