Radarjambi.co.id-Jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia, per Agustus 2025, mencapai 162 buah. Rinciannya, 99 buah universitas, 32 sekolah tinggi, 26 institut, 4 politeknik, dan 1 akademi.
Tentu, 162 PTMA bukanlah jumlah yang kecil. Penulis bayangkan, jika semua dosen PTMA itu memiliki resolusi terbaik pada 2026, kelak kualitas pembelajaran di PTMA juga mencapai hasil yang terbaik. Apa saja resolusi dosen PTMA pada 2026?
Sebagai dosen di salah satu PTMA selama 13 tahun, penulis mencatat tiga buah resolusi pada 2026. Pertama, dosen PTMA berikhtiar agar pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi (PT) bersifat mumpuni dan inovatif.
Tridarma PT meliputi kewajiban pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kewajiban pendidikan terfokus pada aktivitas mengajar di kelas, membimbing tugas akhir (TA) mahasiswa, dan menulis buku/bahan ajar.
Tridarma PT
Kewajiban penelitian terfokus pada kegiatan penelitian/riset dan publikasinya terkait bidang keilmuannya. Kemudian kewajiban pengabdian kepada masyarakat terfokus pada kegiatan penceramah/narasumber lokakarya, pelatihan, gelar wicara, dll.
Pendek kata, pelaksanaan Tridarma PT bersifat mumpuni (sesuai bidang keilmuannya) dan inovatif (sesuai kebaruannya). Dengan begitu, Tridarma PT berdampak nyata terhadap kualitas di PTMA terkait.
Sebagai contoh, penulis mengajar mata kuliah (MK) Bahasa Indonesia di sejumlah program studi (prodi). Salah satu target dalam MK Bahasa Indonesia adalah mahasiswa menulis tulisan ilmiah.
Sebelum menulis, mahasiswa terlebih dulu melakukan kegiatan pramenulis, di antaranya membaca artikel jurnal melalui laman Google Scholar dan meresumenya. Kemudian resume tadi diolah menjadi tulisan ilmiah yang berbobot.
Kedua, dosen PTMA berikhtiar merawat kesehatan jasmani, rohani, dan ekonomi secara berimbang. Kesehatan jasmani diperoleh melalui aktivitas makan dan minum yang bergizi, berolahraga yang rutin, dan istirahat yang cukup.
Alhamdulillah penulis sedang merutinkan berolahraga berupa jalan sehat tiap Ahad pagi di lapangan dekat rumah. Olahraga itu, sedikit banyak, berdampak pada kebugaran badan penulis saat bekerja di kampus, dari pagi sampai sore.
Kesehatan rohani diperoleh melalui kegiatan ibadah salat, zikir, baca Al-Quran, puasa sunah, ikut pengajian, dll. Di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), sekitar 10 menit menjelang azan Zuhur dan Asar ada pengumuman untuk pelaksanaan salat di masjid. Alhamdulillah penulis juga sedang merutinkan salat berjemaah di Masjid Islamic Centre, Kampus IV UAD. Selain salat berjemaah, penulis dapat berzikir, baca Al-Quran, dan salat sunah.
Berikutnya kesehatan ekonomi diperoleh melalui mencari penghasilan tambahan, bersedekah, dan berzakat. Mencari penghasilan tambahan melalui menulis artikel di media massa, baik lokal maupun nasional.
Selain itu, mencari penghasilan tambahan melalui menjadi penceramah/narasumber di dalam dan luar kampus. Di samping itu, kesehatan ekonomi dapat diperoleh lewat bersedekah dan berzakat. Khusus zakat, terdapat zakat profesi atau zakat penghasilan.
Idealnya, para dosen PTMA berikhtiar merawat kesehatan jasmani, rohani, dan ekonomi. Kesehatan jasmani, rohani, dan ekonomi amat penting dan relevan bagi para dosen PTMA. Disebut amat penting dan relevan karena para dosen PTMA berikhtiar sendiri “menghidup-hidupi” kampusnya, tanpa bantuan dari pemerintah.
Mudah-mudahan para dosen PTMA selalu sehat jasmani, rohani, dan ekonominya agar tetap berkarya demi kemajuan bangsa-negara kelak.
Aktif di Persyarikatan
Ketiga, dosen PTMA berikhtiar aktif di Persyarikatan Muhammadiyah (populer dikenal: Persyarikatan), baik di level pusat, wilayah, daerah, cabang, maupun ranting. Aktif di Persyarikatan tidak dimaknai harus menjadi pimpinan atau anggota pimpinan di level-level tadi.
Lebih dari itu, aktif di Persyarikatan juga dapat dimaknai dengan datang ke pengajian, ikut berdonasi, berbagi informasi tentang Persyarikatan, dll.
Seperti kata-kata KH Ahmad Dahlan, hidup-hidupilah Muhammadiyah. Artinya, para dosen PTMA harus proaktif di Persyarikatan. Apabila dosen PTMA menjadi pimpinan atau anggota pimpinan di Persyarikatan level tertentu, kelak ia juga memajukan PTMA-nya sendiri.
Sebagai contoh, penulis menjadi anggota Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi. Berkat kemampuan menulisnya, penulis berikhtiar menghidup-hidupi Persyarikatan, khususnya bidang penulisan.
Bagaimana pun, para dosen PTMA bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Untuk itu, jika mereka aktif di Persyarikatan, kelak AUM terkait juga aktif. Sebaliknya, jika mereka kurang/tidak aktif di Persyarikatan, kelak AUM terkait kurang/tidak aktif.
Dengan begitu, aktif-tidaknya dosen PTMA di Persyarikatan menentukan gerak langkah PTMA ke depan. Moga-moga para dosen PTMA memiliki kesadaran penuh atas kata-kata KH Ahmad Dahlan tadi.(*)
Penulis : Sudaryanto, M.Pd. Dosen PBSI FKIP UAD; Anggota Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PRM Nogotirto
Deretan YouTuber Paling Populer di Dunia dengan Jumlah Subscriber Fantastis
Di Balik Penyederhanaan Angka: Mengapa Redenominasi Menuntut Stabilitas yang Kokoh
Direksi PalmCo Pastikan Target Produksi PTPN Regional 4 Tercapai
Pemprov Jambi Berikan Penghargaan kepada Pelaku Seni dan Budaya dalam Malam Keagungan Melayu