Feature : Konsep, Jenis dam Trik Menulisnya

Selasa, 10 Maret 2026 - 20:51:19


Sudaryanto
Sudaryanto /

Radarjambi.co.id-Salah satu karya jurnalistik di media massa yang menarik disimak adalah feature. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi VI menerangkan, feature adalah karya jurnalistik yang berisi perpaduan berita dan opini, dengan gaya bercerita, mengandung unsur yang menyentuh jiwa pembaca, dan bahasa yang indah (cerita atau karangan khas). Terkait itu, muncullah pertanyaan: apa saja jenis feature dan bagaimana trik menulisnya bagi penulis pemula?

Secara umum, feature merupakan tulisan yang berfokus pada sisi minat insani (human interest) sebuah objek atau peristiwa saja tanpa mengabaikan sisi informasi yang harus diberikan kepada pembaca (sumber: www.ikromzain.com).

Dengan kata lain, feature merupakan tulisan atau karya jurnalistik yang memadukan sisi minat insani dan sisi informasi secara khas/unik. Untuk itulah, feature menarik disimak dan ditulis oleh siapa pun, termasuk penulis pemula.

 Jenis-Jenis Feature

Kemudian kita beralih ke jenis-jenis feature. Ada enam jenis feature sebagaimana dijabarkan di laman www.ikromzain.com. Pertama, feature minat insani (human interest feature). Feature ini biasanya muncul sebagai “penyeimbang” dari berita langsung (hard news) di media massa.

Misalnya, ada berita utama tentang terjadinya banjir di Jakarta. Kemudian di sampingnya ada feature tentang keluhan warga atas drainase yang rusak akibat banjir.

Kedua, feature sejarah (historical feature). Feature ini biasanya muncul di rubrik/desk bidang humaniora. Sebagai contoh, di daerah Pantura, Jawa Tengah, dikenal istilah “Lebaran ketupat” atau bodo kupat pada tiap 7 Syawal.

Secara kultural, masyarakat Pantura menyambut Idulfitri pada 1 Syawal dan diikuti puasa Syawal sejak 2-7 Syawal. Tradisi itu, langsung atau tidak, memiliki akar historis dengan penyebaran agama Islam oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Ketiga, feature biografi (biographical feature). Feature ini selalu mengetengahkan sosok atau individu yang inspiratif bagi banyak orang. Contohnya, harian Kompas pernah mengangkat feature biografi Dr. Widjo Kongko.

Ia menempuh studi S-1 Teknik Sipil UGM, kemudian studi master di Jepang dan studi doktoral di Jerman. Kini, Widjo dikenal sebagai pakar pemodelan tsunami yang kajiannya bermanfaat bagi semua pihak.

Keempat, feature yang mengajarkan keahlian (how-to-do feature). Feature ini sepintas mirip dengan teks prosedur, memuat uraian tahap demi tahap pembuatan ini-itu. Misalnya, feature penggunaan media sosial (Instagram) dalam promosi produk rumahan (home industry).

Berkat promosi itu, kelak produk rumahan akan semakin diminati oleh konsumen dan menambah pendapatan. Dengan begitu, penggunaan media sosial amat berdampak terhadap promosi tadi.

Kelima, feature ilmiah (scientific feature). Feature ini biasanya terbit dalam rubrik/desk ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sebagai contoh, harian Kompas pernah menurunkan feature ilmiah tentang kerokan dari sisi kesehatan.

Kerokan menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia, terkhusus orang Jawa. Meski terbilang kolot, kerokan tetap menjadi pilihan bagi sebagian kita saat merasakan sakit masuk angin.

Kelima jenis feature di atas, sering muncul di media massa kita. Kemunculan feature di media massa tentu memberikan kekhasan bagi pembaca. Selain berita langsung, pembaca media massa juga dapat menikmati feature dan tulisan kreatif lainnya, seperti cerita pendek, artikel opini, dan kolom. Ibarat kata, feature laksana sekuntum bunga di tengah warna-warni taman bunga. Itulah keunikan dari tulisan feature di media massa.

 Trik Menulis

Berikutnya, kita membahas tentang trik menulis feature. Pertama, buatlah paragraf pembuka (lead) yang menarik. Ada banyak jenis lead yang dapat digunakan. Ada lead deskriptif: “Lorong di Gedung Fakultas Hukum UI tampak lengang.

Siang itu, Tempo sudah membuat janji wawancara dengan Topo Santoso, guru besar hukum tata negara FHUI.” Ada lead pertanyaan: “Siapa yang tak kenal almarhum Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah?”.

Kedua, susunlah isi feature yang komprehensif. Isi feature hampir sama dengan berita langsung. Namun, dalam menulis feature aturan 5W + 1H (what, why, who, where, when, dan how) tidak seketat dalam menulis berita langsung. Kemudian isi feature bersifat menghibur, menyajikan sisi minat insani, dan bisa ditulis kapan saja dan di mana saja. Feature dibaca kapan saja tidak masalah karena berbeda dengan berita langsung yang mengutamakan aktualitas.

Ketiga, karanglah bagian penutup yang “menggigit”. Bagian penutup feature bisa berupa sindiran halus atau celetukan. Misalnya, harian Kompas pernah menerbitkan feature biografi seorang pensiunan guru yang mendidik anak-anak di pasar.

Harapan guru itu agar anak-anak tidak menjadi preman pasar. Di bagian penutup feature itu, sang penulis menyindir halus: “Semoga negara kita kelak tidak dikuasai preman-preman pasar.”

Keempat, teruslah membuka rasa penasaran pembaca. Feature yang baik adalah feature yang membekas di pikiran pembacanya. Usai membacanya, pembaca feature selalu terngiang-ngiang tentang tokohnya, kata-katanya, dan hal-hal lainnya.

Hal itu wajar, mengingat feature memiliki fungsi pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan atau peristiwa tertentu. Dengan begitu, feature menjadi sarana ekspresi yang terefektif dalam memengaruhi khalayak.(*)

 

Penulis : Sudaryanto, M.Pd., Dosen Penulisan Feature FKIP UAD; Anggota PRM Nogotirto; Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNY