Dewan Desak Aparat Usut Dugaan Korupsi Embung

Senin, 08 Juni 2015 - 23:09:02


Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Zoerman Manaf
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Zoerman Manaf /

RADARJAMBI.CO.ID, JAMBI - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, H Zoerman Manaf, mendesak aparat hukum untuk segera mengusut kasus dugaan korupsi proyek Embung senilai Rp 6 miliar lebih di Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi.

Kepada sejumlah awak media (8/6), Zoerman, mengatakan bahwa dirinya sepakat dengan Embung, apalagi menurutnya, jika Embung tersebut dimanfaatkan untuk pengairan irigasi.

 "Tapi, untuk yang satu ini saya tidak sepakat. Masa iya dibangun dikebun sawit, apalagi dari informasi yang saya terima hanya dikerjakan 18 hari. Itu jelas tidak masuk akal," bebernya.

Diakuinya, untuk pembuatan Embung dibutuhkan banyak alat berat dan memakan waktu cukup lama. Sedangkan Embung di sungai Bahar cuma menggunakan dua alat berat saja.

 "Embung sebesak itu harusnya pakai puluhan alat berat. Saya anjurkan jaksa dan polisi segera mengusut," katanya.

Ia menilai, proyek pembangunan Embung sungai bahar, abal-abal.

 "Kasus ini harus segera dituntaskan, agar tidak ada stigma negatif tentang DPRD yang sudah meloloskan anggaran untuk pembangunan embung itu. Embung itu perlu. Karena warga juga membutuhkan. Tapi benar-benar dilaksanakan. Jangan ada Embung, tapi untuk Cari keuntungan. Bahkan kabarnya ini tidak memberikan manfaat yang baik bagi warga," ujarnya.

Zoerman juga mendorong aparat untuk mengusut proyek embung di Bandara Sultan Thaha dan di Kabupaten Tebo.

 "Aparat bisa teliti manfaat dan penyimpangannya," tegasnya.

Untuk diketahui, di tahun 2015 ini dinas PU kembali bakal membangun Embung dengan menggunakan APBD murni 2015. Salah satu Embung ini juga bakal di bangun di Bandara Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

“Itu dibuat disamping kebun orang. Warga tak merasakan manfaatnya,”kata Budiyako, sala satu Anggota Komisi III.

Ia mengatakan, dari hasil pengamatan Komisi III dilapangan, memang banyak kejanggalan dari proyek embung tersebut. Pihaknya menilai pembangunan Embung disana tidak jelas manfaatnya. Status tanah untuk embung itupun belum jelas.

 “Jangan-jangan itu tanah warga yang digali. Tujuan dibangun Embung untuk apa,”kata Budiyako.

Ia sangat menyayangkan, di kucurkannya APBD senilai Rp 6 miliar lebih itu, hanya untuk proyek yang asal-asalan. Ia menilai itu mubazir. “warga bilang itu tidak penting. Makanya kami nilai itu pemborosan, ngabisin anggaran,” bebernya.

Budiyako juga membeberkan, bahwa embung itu hanya proyek akal-akalan dinas PU. Padahal katanya, masih banyak pembangunan lainnya dengan skala prioritas.

“Apa hanya untuk ngejar proyek?. Saya menyayangkan, sementara masih banyak jalan-jalan yang perlu diperbaiki,”tegasnya.

“Kami komisi III melihat pembangunan Embung itu tidak urgen,” imbuhnya.

Budiyako juga membeberkan kejadian lucu, saat dirinya bersama Komisi III lainnya turun kelokai bersama kadis PU, Benhard Panjaitan, untuk memeriksa embung. “Pak Ben malah nyengir-nyengir saat ditanya. Ini kan lucu,” katanya.

Budiyako mendesak aparat segera turun untuk mengusut kasus ini.

"Lucu lagi Embung yang di bandara itu. Itukan lahan Angkasa Pura, kenapa tidak serahkan ke mereka saja. Itukan mubazir namanya, sawah mana yang mau mereka aliri disana. Kalau cuma untuk kebutuhan air, saya pikir cukup diatasi dengan sumur-sumur bor. Benar-benar tidak jelas," pungkasnya.


Reporter: Kaspul Anwar

Editor: Gustav Wiranata