Refleksi Dua Tahun Pembelajaran Daring

Jumat, 29 April 2022 - 14:44:14


Tri Wahyu Ningrum
Tri Wahyu Ningrum /

Radarjambi.co.id-Indonesia menjadi salah satu Negara yang terdampak oleh penyebaran coronavirus 2019 atau sering disebut covid-19.

Penyebaran virus ini pertama kali muncul di Indonesia pada awal maret 2020, hal tersebut membuat beberapa kebijakan muncul saat pandemic covid-19 seperti sanksi bagi pelanggar protocol kesehatan, penerapan PPKM, PSBB, stimulus pariwisata.

Bahkan kegitan belajar mengajar diberhentikan sementara untuk tatap muka.
Pada masa pandemic mendikbud Nadiem Anwar Makarim memberikan kebijakan untuk menghentikan aktifitas bersekolah sebagai salah satu bentuk upaya dalam mencegah penyebaran covid-19.

Setelah beberapa saat menghentikan aktifitas sekolah kemendikbud mengembangkan aplikasi untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dan dilakukan secara daring.
Pembelajaran secara daring sendiri merupakan istilah baru didunia pendidikan.

Pembelajaran daring membuat semua kalangan berlomba-lomba dalam mempelajari internet yang awalnya sekolah dilarang menggunakan smarthpone, pada masa pandemi ini hal sebaliknya pun terjadi siswa, guru bahkan orang tua.

Yang awalnya belum melek teknologi mau tidak mau harus belajar untuk bisa menggunakan smartphone meskipun dengan keterbatasan sinyal didaerah pelosok.

Banyak kesulitan saat awal melakukan pembelajaran secara daring namun semua harus dilakukan agar tetap bisa melakukan pembelajaran.

Lama kelamaan semua bisa berdamai dengan keadaan yang awalnya terasa sulit menjadi terasa biasa dan tak ada kesulitan kecuali sinyal karena banyak sistem pembelajaran daring yang dapat dilakukan melalui group whatsapp, zoom, google clasroom, youtube dan lain sebagainya.

Pembelajaran daring sering dianggap sepele oleh peserta didik tanpa pengawasan langsung dari seorang guru peserta didik menganggap pembelajaran daring menjadi hal yang mudah padahal pembelajaran daring menjadi lebih sulit dibanding pembelajaran langsung atau tatap muka.

Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan saat pembelajaran jarak jauh pengawasan, perhatian, serta menanyakan materi yang telah disampaikan oleh guru merupakan suatu tindakan yang dapat mencegah seorang anak atau peserta didik agar pembelajaran dapat diserap oleh pikiran mereka.

Menjadi mahasiswa baru saat pertama kali diterapkan pembelajaran daring terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan saat pembelajaran daring yang dapat dirasakan

Akses lebih mudah, waktu lebih fleksibel dan memperluas wawasan menjadi kelebihan saat pembelajaran daring, namun ada juga beberapa kelemahan saat pembelajaran daring antara lain terbatasnya koneksi internet, kurangnya sosialisasi interaksi dan juga kesulitan dalam memahami materi.

Pembelajaran daring sudah dilakukan selama dua tahun bukan jangka waktu yang pendek, banyak kejanggalan atau kesulitan saat pembelajaran daring.

Sebagai hal yang terlibat dalam pembelajaran secara daring perlu adanya evaluasi baik sebagai pendidik, peserta didik, dan juga orang tua.

Sebagai pendidik harus lebih banyak belajar dan bebenah dalam penggunaan teknologi, perlu adanya training kepada guru-guru untuk dapat menambah wawasan dan keahlian dalam menggunakan aplikasi, serta memodifikasi model pembelajran agar peserta didik tidak merasa jenuh.

Peserta didik sangat berperan penting dalam penyerapan materi untuk diri sendiri, kesadaran dari siswa bahwa pembelajaran harus tetap berjalan meski dalam keadaan pembelajaran jarak jauh.

Untuk siswa yang tidak memiliki smartphone dan faktor ekonomi yang terbatas pemerintah harus memberikan solusi agar pembelajaran daring tetap harus berjalan.

Sebagai orang tua diharapkan memberikan dukungan dan melakukan pendampingan saat pembelajaran daring agar penyampaian materi yang disampaikan guru tidak dianggap sepele oleh peserta didik. (**)


Penulis: Tri Wahyu Ningrum, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta