Tumpukan Sampah ini Senilai Rumah RSS Type 36 di Kota Jambi Waktu Itu

Selasa, 21 April 2026 - 11:02:06


/

Waktu mengajak dua sahabat tokoh sastrawan Sumatra Barat (Sumbar) Muhammad Subhan dan DR Sulaiman Juned yang juga merupakan dosen ISI Padang Panjang, minggu (19/4) berkunjung ke Makam Pahlawan Sultan Thaha Saefuddin yang terletak di kawasan pasar kota Muaro Tebo, saya terkejut melihat tumpukan sampah prasasti ini. 

Sangat disayangkan tumpukan pecahan prasasti yang menceritakan siapa Sultan Thaha Saefuddin dan perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda kondisinya pecah berserakan. 

Saya ingat betul prasasti ini yang dibuat dengan menggunakan APBD Kabupaten Tebo kalo tidak salah tahun 2005 atau tahun 2006, saat dibawah kepemimpinan Bupati Tebo, Drs H A Madjid Mu'az MM, dengan anggaran sekitar Rp 40 jutaan di bagian Sosial Setda Tebo. 

Informasi ini langsung saya dapat dari beliau yang marah besar melihat kondisi prasasti tersebut yang waktu itu baru datang dan diletakkan di makam pahlawan nasional kebanggaan Jambi datang dengan kondisi retak dari awal. 

"Rian ini prasasti aku buat dengan duit pribadi aku, berapo hargonyo rian?, " ujar beliau kepada saya sembari menunjuk prasasti yang berisikan puisi karya Presiden Penyair Jambi, Ari Setya Ardhi berjudul "Menata Pusaka Silsilah" (Satu Abad Sultan Thaha) yang dibacakan dalam Haul satu abad wafatnya Sultan Thaha Saefuddin dimakam tersebut tahun 2004 yang kemudian dijadikan prasasti oleh beliau. 

"Kalau tidak salah Rp 10 juta biayanya pak,"saya jawab singkat. 

Dengan wajah memerah penuh amarah beliau kembali berujar, " Cubo kau tengok, ini pakai duit negara, Rp 40 juta lebih kayak gini hasilnyo, jauh nian kualitasnyo dengan yang aku buat dengan duit pribadi aku,"ujarnya menahan amarah sembari menanyakan siapa kontraktor nakal yang mengerjakan prasasti tersebut kepada bawahannya yang mendampingi waktu itu. 

Mendengar angka yang beliau sebut, saya tersenyum miris sambil berujar dalam hati,

"Sueeek... Bendo macam ni sehargo rumah BTN sayo dijambi," Kebetulan waktu itu saya baru siap akad kredit Rumah Subsidi type 36 di Kota Jambi dengan harga Rp 45 juta, dengan uang muka Rp 5 juta dan sisa Rp 40 juta diangsur selama 10 tahun. 

"Yang ngerjakan si Anu anak si Anu pak,"ujar bawahannya waktu itu. 

Begitu mendengar hal tersebut sayapun juga ikut tersentak kaget, karena saya kenal baik dengan orang tua si kontraktor yang juga merupakan salah seorang sahabat papa saya ketika berdinas di Tebo, saya pun mencoba meredam amarah orang nomor satu di Tebo tersebut. 

"Sudahlah pak mungkin anak tu baru belajar jadi kontraktor, terus dio dak betanyo dimano bapak pesan prasasti yang bapak buat,"sebut ku lagi. 

" Yo, kau tulis di koran kau rian, aku berusaha menyelamatkan peninggalan sejarah yang ado di Tebo, tapi jangan dibuat asal-asalan kayak gini,"lanjutnya lagi. 

Memang selama menjabat sebagai Bupati Tebo, beliau dikenal sebagai Bupati yang mempunyai jiwa seni dan peduli terhadap peninggalan sejarah yang ada di Tebo. 

Kamipun berlalu meninggalkan malam tersebut, dan keesokan harinya berita mengenai hal ini pun saya terbitkan di koran saya waktu itu Pos Metro Jambi.

Namun tampaknya cerita prasasti tersebut belumlah berakhir keesokannya, karena begitu berita terbit saya langsung ditelpon oleh Kabag Sosial Setda Tebo waktu itu yang tidak terima dengan pemberitaan tersebut, bahkan mengancam dan mengajak saya berkelahi. 

"Dindo jangan macam-macam dengan sayo, karno sayo ni keluarga besar disini, selesai dindo kagek, kalo dak senang payo kito belago, "ujarnya kepada saya waktu itu. 

Mendapatkan ancaman tersebut, saya tanggapi dengan tertawa. 

" Eh bang, yang sayo tulis tu cakap pak Bupati, kalo abang dak senang sayo sampaikan ke beliau yo, sekalian sayo minta izin dengan beliau menuhin permintaan abang untuk belago tu, kalau diizinkannya, payo la kito belago, masak sayo harus belago dengan abang gara-gara cakap beliau," jawab saya sambil berseloroh. 

Usai menerima telpon saya pun segera mendatangi Rumah Dinas Bupati, dan langsung menceritakannya kepada Bupati, dengan santai beliau menjawab,

"Yo bengak budak tu, pejabat kok macam tu, bukannyo instropeksi malah ngancam kau pulak, baleklah kau, biak aku yang urus budak ni,"tegas Bupati kepada saya. 

Mendengar jawaban beliau saya pun pamit pulang, tak selang 3 hari kemudian saya melihat si Kabag dicopot beliau dari jabatannya oleh Bupati, Ternyata sampah senilai rumah subsidi ini akhirnya memakan korban juga. 

Sekarang dimakam tersebut hanya tinggal prasasti puisi yang kondisinya juga terancam pecah karena kaki penopangnya yang terbuat dari kayu terlihat mulai lapuk di makan usia, semoga Pemkab Tebo dibawah kepemimpinan Bupati Agus Rubiyanto dan Wakil Bupati (Wabup) Nazar Efendi segera menyelamatkannya. (***)

 

Penulis : Riance Juskal Wartawan Radarjambi.co.id