Radarjambi.co.id-Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tanahnya yang subur menjadikan Indonesia dapat dijadikan sebagai lahan pertanian yang dapat diandalkan untuk menciptakan ketahanan pangan untuk menunjang kesejahteraan rakyatnya .
Namun, kendala terbesar yang sering merugikan petani adalah organisme pengganggu tanaman (OPT).
Selama ini, untuk mengamankan hasil pertanian, supaya tidak gagal panen, petani menggunakan pestisida kimia, karena mudah didapat dan relatif murah.
Pestisida kimia adalah pestisida hasil sintesis yang kebanyakkan tidak ramah lingkungan, sehingga sering berdampak negatif bagi kesehatan para petani dan lingkungan. Penggunaan pestisida kimia seperti makan buah simalakama.
Mengapa demikian? Pestisida kimia yang digunakan akan mencemari lingkungan dan membahayakan kehidupan alam sekitar. Akan tetai, tidak menggunakannya, maka petani akan terancam gagal panen, akibat serangan OPT.
Pemanfaatan tumbuhan lokal yang mudah didapat di lingkungan sekitar sebagai bahan baku pembuatan pestisida nabati perlu diperkenalkan kepada masyarakat petani, sebagai tumbuhan lokal pengganti pestisida kimia.
Terutama tumbuhan gulma, yang sangat melimpah di Indonesia, yang sering dianggap mengganggu lingkungan. Gulma perlu ditingkatkan daya gunanya. Salah satu manfaatnya adalah sebagai bahan baku pestisida nabati.
Pestisida nabati atau pestisida alami berdasarkan penelusuran literatur memiliki sifat ramah lingkungan.
Salah satu gulma yang dapat dijadikan bahan baku pestida nabati adalah tanaman wedusan (Eupatorium odoratum), anggota suku Asteraceae.
Nama ilmiah lainnya adalah Ageratum conyzoides. Wedusan, walaupun dianggap gulma, namun menyimpan berbagai khasiat kesehatan, dan sudah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional.
Peneliti telah meneliti tanaman ini sejak tahun 1987, sebagai obat imflamasi dan anti koagulasi darah, luka luar. Wedusan kaya dengan kandungan kimia flavonoid.
Eupatorium odoratum masing masing daerah mempunyai nama yang berbeda-beda. Masyarakat Kalimantan Barat mengenalnya dengan nama serunai, orang Madura menamakannya bandotan, orang Sunda dikenal dengan kerinyuh, masyarakat Aceh menyebutnya koko dan di Malaysia khususnya Penang lebih dikenal dengan pokok Jerman. Tanaman wedusan dalam bahasa Inggris adalah goatweed atau billygoat-weed.
Pada tahun 2025, telah dilakukan pembuatan pestisida nabati dari akar, batang, dan daun wedusan. Dari hasil penelitian diketahui yang paling aktif sebagai anti jamur Fusarium oxyporum adalah ekstrak akar, kemudian daun dan yang paling tidak aktif adalah batang.
Namun dari segi kemudahan pembuatan dan persediaan bahan baku, lebih menguntungkan menggunakan daun. Fusarium oxyporum adalah sejenis jamur perusak akar tanaman atau lebih dikenal dengan penyakit layu akar.
Selain itu juga, pada tahun 2026, sudah diteliti efek ekstrak daun wedusan terhadap mortalitas belalang hijau. Belalang hijau tersebut sering menyerang tanaman jagung, sedangkan kepik labu sering menyerang tanaman labu dan mentimun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun wedusan (Eupatorium odoratum) sangat efektif sebagai faktor mortalitas bagi belalang hijau dan kepik labu. Oleh karena itu, wedusan dapat digunakan sebagai pestisida nabati.
Pembuatan pestisida nabati sangat mudah. Salah satunya dapat dilakukan melalui metode maserasi, yaitu dengan merendam tanaman wedusan ke dalam pelarut metanol atau etanol 25-50% selama 2x24 jam pada temperatur kamar.
Setelah penyaringan, ekstrak daun wedusan dihilangkan sisa pelarut metanol atau etanol melalui evaporator. Kemudian ekstrak yang sudah bebas metanol atau etanol, langsung dapat digunakan sebagai pestisida nabati.(*)
Penulis:Prof. Drs. Sabirin Matsjeh, Ph.D. Dosen Pendidikan Biologi FKIP UAD
Pelanggaran HAM di Inonesia Antara Penegakan Hukum dan Reakitas Keadilan
Negara Digital, Rakyat Manual: Mengapa Urus Dokumen Masih Harus Bolak-Balik?
Mengenal Desa Sade Lombok: Desa Adat Suku Sasak yang Tetap Authentic di Era Digital
Pemerintah Kota Jambi Beri Penghargaan Bagi Pelaku Usaha dan Ivestor