Membeli Buku Bukan Berarti Membaca Buku

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:09:26


Alifi Suci Amalia
Alifi Suci Amalia /

Radarjambi.co.id+Setiap kali pameran buku hadir di berbagai kota, antusiasme masyarakat selalu terlihat tinggi. Diskon besar-besaran, promosi media sosial, hingga tren memamerkan tumpukan buku baru seolah menjadi bagian dari gaya hidup generasi saat ini.

Fenomena ini tampak menggembirakan karena menunjukkan bahwa buku masih memiliki tempat di tengah derasnya arus digitalisasi.

Namun, dibalik semarak itu, muncul pertanyaan penting. Apakah membeli buku selalu berarti membaca buku?

 Realitanya, tidak sedikit orang membeli buku hanya sebagai bentuk kepemilikan simbolik. Buku dibeli karena sampulnya menarik, sedang populer di media sosial, direkomendasikan influencer, atau sekadar untuk mempercantik rak dan unggahan digital.

Buku menjadi bagian dari identitas visual seseorang agar terlihat intelektual, produktif, atau “berkelas”. Dalam konteks ini, membeli buku lebih sering menjadi tindakan konsumsi budaya daripada aktivitas literasi yang sesungguhnya.

Terjadi pergeseran fungsi buku di masyarakat. Jika dulu buku dianggap sebagai sumber ilmu dan ruang berpikir kritis, kini benda tersebut kerap diperlakukan sekadar sebagai pajangan atau hiasan estetis tanpa diresapi isinya. Hal ini sangat kontradiktif dengan gencarnya upaya nasional dalam memajukan literasi.

Penelitian Aulia Akbar (2019) tentang minat literasi mahasiswa menunjukkan bahwa kepemilikan buku tidak selalu sejalan dengan intensitas membaca,

Banyak mahasiswa memiliki buku pegangan, tetapi tidak membacanya secara menyeluruh karena rendahnya fokus membaca dan kurangnya dorongan internal untuk memahami isi bacaan secara mendalam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya memiliki buku belum tentu melahirkan budaya membaca yang kuat.

Lebih jauh lagi, perkembangan media digital menghadirkan tantangan baru lagi kebiasaan membaca. Mahasiswa dan generasi muda kini lebih sering mengakses informasi melalui layer gawai daripada membaca buku cetak secara utuh.

Penelitian Maria Teresia Manal Manalu, Meri Tarihoran, Eka Tambunan, Lailan Hafiza Harahap, dan Fitriani Lubis (2025) mengenai preferensi membaca mahasiswa menemukan bahwa smartphone menjadi media utama dalam aktivitas membaca, sementara durasi membaca cenderung singkat dan terfragmentasi.

Informasi dikonsumsi secara cepat, instan, dan parsial, bukan melalui pembacaan mendalam yang menuntut konsentrasi tinggi.

Situasi ini diperparah oleh budaya media sosial yang menekankan citra dibanding substansi.

Di berbagai platform digital, unggahan foto rak buku estetik atau tumpukan buku belanjaan sering mendapat apresiasi tinggi.

Sayangnya, jarang ada dorongan yang sama besar untuk membahas isi buku secara kritis. Membeli buku akhirnya menjadi bentuk “flexing literasi”, yakni menampilkan kesan gemar membaca tanpa proses intelektual yang nyata.

Fenomena ini bukan berarti membeli buku adalah tindakan yang salah. Membeli buku tetap merupakan bentuk dukungan terhadap ekosistem literasi, penulis, penerbit, dan industri perbukuan.

Penelitian Yuana Tri Utomo, Ismail Yusanto, dan Rizki Topan Ariawan (2021) tentang keputusan pembelian buku menunjukkan bahwa faktor visual seperti desain sampul serta persepsi nilai sangat memengaruhi minat konsumen membeli buku.

Ini menunjukkan bahwa aspek estetika memang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku pembelian masyarakat modern. 

 Masalah muncul ketika aktivitas membeli berhenti sebagai transaksi konsumtif semata. Buku yang terus menumpuk tanpa pernah dibaca tidak akan mengubah wawasan seseorang.

Pengetahuan tidak berpindah hanya karena buku berpindah tangan dari toko ke rak pribadi. Literasi lahir dari keterlibatan aktif antara pembaca dan teks: membaca, merenungkan, mempertanyakan, bahkan mendebat gagasan di dalamnya.

Karena itu, solusi pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah orientasi masyarakat dari sekadar memiliki buku menjadi memahami isi buku.

Buku tidak seharusnya berhenti sebagai koleksi visual, melainkan menjadi sarana transformasi pengetahuan. Kesadaran ini harus dibangun sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan formal.

 Solusi kedua adalah membentuk kebiasaan membaca secara bertahap dan realistis. Banyak orang gagal membaca karena menetapkan target yang terlalu besar.

Padahal, kebiasaan membaca dapat dimulai dari sepuluh hingga lima belas halaman per hari. Konsistensi membaca jauh lebih penting daripada jumlah halaman yang diselesaikan dalam satu waktu.

Solusi ketiga adalah membangun budaya refleksi setelah membaca. Membaca akan lebih bermakna jika hasilnya dituangkan dalam catatan kecil, diskusi kelompok, atau ulasan singkat.

Aktivitas ini membantu pembaca mengolah informasi menjadi pemahaman yang lebih dalam, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.

Selain itu, institusi pendidikan perlu melakukan evaluasi terhadap cara mereka menanamkan budaya literasi. Sekolah dan kampus sering mendorong peserta didik membeli banyak referensi, tetapi kurang menanamkan tradisi membaca kritis. Buku akhirnya hanya menjadi syarat administratif untuk menyelesaikan tugas, bukan ruang dialog intelektual.

Oleh sebab itu, pendidik harus mulai mendorong diskusi berbasis bacaan, resensi buku, dan forum refleksi agar membaca menjadi pengalaman aktif.

Di sisi lain, media sosial juga dapat diubah fungsinya dari ruang pamer menjadi ruang berbagi pemikiran. Alih-alih sekadar mengunggah foto buku baru, pengguna dapat membagikan gagasan penting yang diperoleh setelah membaca.

Langkah sederhana ini akan membantu membangun ekosistem literasi yang lebih substantif.

Pada akhirnya, membeli buku memang langkah awal yang baik, tetapi itu belum cukup. Buku yang hanya tersusun rapi di rak hanyalah benda mati.

Ia baru hidup ketika dibuka, dibaca, dipahami, dan didialogkan dengan pengalaman pembacanya. Literasi sejati tidak terletak pada seberapa banyak buku yang dimiliki, melainkan pada seberapa jauh isi buku itu mengubah cara seseorang memandang dunia. 

Maka, di tengah maraknya budaya membeli buku hari ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar sedang mencintai buku, atau hanya mencintai citra sebagai pecinta buku? Kesadaran ini penting agar kebiasaan membeli buku tidak berhenti sebagai simbol semata, melainkan berlanjut pada kebiasaan membaca, memahami, dan mendialogkan gagasan di dalamnya.

Sebab pada akhirnya, membeli buku hanyalah langkah awal. Nilai sesungguhnya terletak pada bagaimana buku itu dibaca dan mengubah cara kita berpikir. Tanpa itu, buku hanya akan menjadi dekorasi sunyi yang kehilangan maknanya.(*)

 

 

Penulis : Alifi Suci Amalia Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan