Penderita Gizi Buruk Terus Meningkat, Muarojambi Terbanyak 2017-2018 6 Orang Meninggal

Rabu, 27 Februari 2019 - 21:24:36


Ilustrasi
Ilustrasi /

 

Radarjambi.co.id - JAMBI - Masalah gizi buruk masih menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi.

Pasalnya, dua tahun terakhir kasus tersebut mengalami kenaikan signifikan yang dipicu oleh ketidakseimbangan asupan makanan.

Untuk itu, Dinas Kesehatan mengoptimalkan peran petugas gizi atau nutrisionis yang ditempatkan di tiap puskesmas untuk menekan kasusnya.

"Selalu ada penyuluhan. Kan ada petugas gizi di tiap-tiap puskesmas," ujarnya.

Nutrisionis adalah seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik, baik di tengah masyarakat maupun di Puskesmas.

Kadinkes Provinsi Jambi melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Helfiyan Amnun mengatakan, di tahun 2017 ada 85 kasus dan 92 kasus pada tahun 2018 lalu.

"Paling banyak itu terdapat di Kabupaten Muaro Jambi. Yaitu 32 kasus di 2017 dan 21 kasus di 2018. Kemudian disusul Kabupaten Tebo, Sarolangun dan Merangin," katanya.

Dijelaskan Helfiyan, selain menderita gizi buruk, rata-rata penyakit lainnya terlebih pada tahun 2018 adalah TB Paru-paru, Pola Asuh, TB Kulit, dan Cerebral Palsy.

"Untuk di Tebo itu ada cacat bawaan, Down Syndrome juga sesak nafas," ungkapnya.

Khususnya di kasus gizi buruk sesuai intervensi program perbaikan gizi masyarakat yang ada di Dinkes, banyak diderita oleh anak usia 0-5 tahun dengan kurangnya asupan nutrisi makanan.

Ditambah daya tahan tubuh lemah serta terjadi infeksi seperti batuk dan diare sehingga pada kasus seperti ini harus adanya sinergisitas semua pihak dalam penanganan kasus ini.

"Harusnya mengenai intervensi banyak dilakukan di tingkat bawah terlebih dahulu dengan rutin melakukan penimbangan setiap bulannya pada anak diposyandu. Selain itu pemberian ASI ekslusif sangat penting sekali sebagai bagian upaya pencegahan, disertai konsumsi makanan bernutrisi," terangnya.

Sedangkan untuk data yang meninggal disebabkan kasus gizi buruk, Helfiyan mengaku itu berjumlah 4 orang di tahun 2017 dan 6 orang di tahun 2018. 

Sementara untuk tahun 2019 ini, Helfiyan mengaku belum menerima laporan dari kabupaten/kota.

"Yang meninggal di 2017 ada di kabupaten Muaro Jambi itu 3 orang, lalu di Tebo 1 orang.

Sedangkan 2018nya 3 orang di Tebo, kemudian Tanjung Jabung Barat, Sungai Penuh dan Merangin masing-masing 1 orang," jelasnya.

Helfiyan melanjutkan, ideal berat badan pada anak di usia 1 tahun adalah minimal 8 kg, karena anak yang dikatakan sehat jika berat badannya normal sesuai dengan umurnya.

"Ini dihitung berdasarkan tabel juga rumus," tambahnya.

Untuk mengenai jumlah anggaran, Helfiyan menyampaikan, penanganan di 2018 dengan 20 kasus yang memperoleh bantuan dana APBD masing-masing kasus sebesar Rp 1.800.000 untuk 90 hari dalam bentuk makanan lokal.

"Begitu juga dana APBN sebanyak Rp 1.800.000 untuk 40 hari dengan 18 kasus," pungkasnya.

 

 

Reporter : Ansori