2019, Desa Sangat Tertinggal di Sarolangun Menurun

Minggu, 08 September 2019 - 21:14:10


Mulyadi, Kepala PMD Sarolangun.
Mulyadi, Kepala PMD Sarolangun. /

radarjambi.co.id-SAROLANGUN-Masuknya dana desa bantuan dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, ternyata memberi dampak besar bagi perkembangan setiap desa.

Hal itu, terlihat dari finalisasi pengukuran Indeks Desa Membangun (IDM) yang dilakukan pada tahun 2019 ini, yang menyatakan, bahwa status Desa sangat tertinggal di Kabupaten Sarolangun mengalami penurunan.

"Iya, tahun ini (2019, red) kita memperoleh hasil pengukuran IDM, melalui pengisian kuisioner yang kita lakukan di 149 desa. Melibatkan unsur penting para pendamping desa dan OPD terkait.

Hasilnya, menempatkan 149 desa di Kabupaten Sarolangun, secara umum berada di level desa dengan status berkembang menuju status maju dan mandiri,"kata Mulyadi,

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) saat dikonfirmasi.
Artinya kata Mulyadi, selama dua tahun IDM diukur skornya naik.

Misal mengacu pada status desa sangat tertinggal, pada kurun waktu 2016 jumlahnya 27 desa dan status tertinggal ada 83 desa. Kemudian kata, digrafik validitas IDM 2018 terjadi penurunan persentase jumlah Desa berstatus sangat tertinggal menjadi 23 desa, dan 76 desa berstatus tertinggal.

Selain porsi Dana Desa (DD) yang bernilai Rp 700 juta lebih berperan besar. Program Peningkatan Percepatan Desa/Kelurahan (P2DK), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) dan sumber sumber dana lain yang masuk ke desa ikut andil.

"Itu terlihat melalui hasil ukur IDM tahun 2019 ini. Desa dengan status sangat tertinggal hanya satu desa dari 23 desa di tahun sebelumnya. Status tertinggal turun menjadi 66 desa,"terangnya.

"Ini sesuai penjabaran visi dan misi Bupati dan Wabup Sarolangun di RPJMD Kabupaten Sarolangun bahkan cenderung melampaui," ujarnya.

Dimana target RPJMD Kabupaten Sarolangun dengan formulasi Desa status berkembang dan maju dibagi 149 desa.

"Target sebesar 53,69 persen, sementara hasil IDM kita 55,70 persen. Ya, secara target memang terpenuhi. Tapi PR kita masih panjang mengembangkan desa,"ungkapnya.

Sementara itu, Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA PSD) P3MD Kemendes PDTT Kabupaten Sarolangun, Qomaruddin mengatakan, progresivitas kemajuan perkembangan desa tak terlepas dari adanya peran dan dukungan pendamping desa.

"Ya. Peran kita mendorong ketepatan sasaran pembanguan di setiap lini sesuai kondisi riil di desa," katanya.

Tepat atau tidak menurutnya, bisa dirujuk melalui pendekatan pada 50 variabel di IDM yang diklasifikasikan pada tiga dimensi, yakni Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL).

Selaku pihak yang mendominiasi pengisian kuisioner IDM, ia tak memungkiri, lokus pembangunan tiap tahun di desa tentu terkorelasi dengan tahun sebelum dan berikutnya.

"Tidak mungkin kan parsial. Misal sekarang bangun PAUD, kedepan bisa penguatan kapasitas pelaku, kalau itu kebutuhannya. Artinya saling terkait,"pungkasnya.(ciz)

 

Editor  :  Ansory S