Muarojambi Gelar Rapat Penanganan Karhutla

Rabu, 11 September 2019 - 22:08:07


Bupati Muarojambi memimpin rapat penanganan Karhutla..
Bupati Muarojambi memimpin rapat penanganan Karhutla.. /

radarjambi.co.id-MUAROJAMBI-Pemerintah Daerah Kabupaten Muarojambi, menggelar rapat evaluasi dan Rencana Kerja Pos Komando Tanggap Darurat dan Rencana Kerja Kebakaran Hutan dan Lahan.

Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Rapat Wakil Bupati Muarojambi, Rabu (11/9/2019).

Rapat ini dihadiri Bupati Muarojambi, Masnah Busro, Danrem 042/Garuda Putih Kol Arh Elphis Rudy. Dandim 0415/Batanghari Letkol Inf J. Hadiyanto, Perwakilan Polda, Kabag Ops Kombes Edy, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Bayu, dan BPBD Kabupaten Muarojambi, M Zakir.

Turut hadir pihak terkait dari pemerintah Daerah, termasuk pihak perusahaan hadir dalam rapat ini.

Dalam kesempatan ini, Bupati Muarojambi, Masnah Busro menyebutkan bahwa Kabupaten Muarojambi menjadi wilayah terparah terjadinya Karhutla.

"Kebakaran Hutan terparah di Provinsi Jambi berada di Kabupaten Muarojambi," ungkapnya.

Masnah menyebutkan bahwa dirinya bersama dengan kepala daerah lainnya termasuk Kapolda, Danrem, Pangdam, BPBD pernah di panggil Presiden RI, Joko Widodo. Menurut Masnah, instruksi dari Presiden untuk tidak ada lagi terjadi asap di daerah.

"Presiden minta untuk tidak lagi terjadi asap seperti tahun 2015. Tahun 2017, 2018 terjadi kebakaran, tetapi tidak seperti ini. 2019 ini kembali terulang. Ini yang perlu kita carikan solusinya," tutur Bupati Masnah.

Danrem 042/Garuda Putih Letkol Elphis Rudy, bersama tim Satgas Karhutla Provinsi Jambi,

Menyebutkan bahwa ada beberapa kali ditemukan dilapangan bahwa alat ada namun personil tidak ada.

"Kita ada lihat, alat hanya di tinggal di situ (red-lokasi kebakaran) kepedulian perusahaan itu kurang. Muarojambi itu paling banyak yang kita lakukan waterbooming di banding tempat lain," sebut Danrem, dalam pertemuan itu.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Danrem menyebutkan bahwa pekerjaan melakukan penangganan mengenai Karhutla menjadi pekerjaan tahunan.

"Kerjaan tiap tahun ini aja. Tahun 2018 ada tapi tidak seperti saat ini, ini kering kerontang. Asap ini kan tidak kenal batas wilayah," tutur Danrem.

"Jadi, karhutla ini tidak mungkin tidak disengaja, ini tidak mungkin alam. Lahan di bawah memang kering tapi ini di atasnya masih ijo," beber Danrem. (akd)