Ketika Sastrawan Muslimah Mendobrak Ketidakadilan Gender

Selasa, 03 Januari 2023 - 10:26:25


/

Radarjambi.co.id-Ketidakadilan gender di masa-masa sekarang ini, bukan lagi hal yang baru. Pengarang perempuan sudah menyoroti ketidakadilan gender, sejak zaman dahulu.

Mereka berhasil mencurahkan keresahan-keresahan perempuan ke dalam sebuah novel. Rasa ketidakadilan gender muncul karena perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut akan berimbas pada perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan.

Fenomena ketidakadilan yang dialami perempuan dapat terjadi kapan pun dan dimana pun, seperti halnya yang terjadi di Indonesia.

Misalnya pada kasus kemiskinan yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang pertama dikorbankan untuk urusan pendidikan adalah anak perempuan. Dalam pemikiran masyarakat Jawa, perempuan identik dengan 3M masak, manak, dan macak.

Masak bermakna ketika seorang istri memiliki kemampuan untuk menyenangkan hati suaminya dengan cara mengolah cita rasa makanan. Macak maksudnya adalah ketika seorang istri mampu menjaga penampilannya demi menjaga nama suami.

Manak merupakan suatu kesempurnaan ketika seorang istri telah menjadi seorang ibu, maka manak dimaksudkan sebagai kemampuan seorang istri dalam mengurus rumah tangga dan menerapkan pendidikan dalam sebuah keluarga.

Ketidakadilan gender bisa terjadi dalam sebuah keluarga antara suami dan istri. Suami yang berperan sebagai laki-laki selalu mengganggap bahwa dirinya adalah seorang pemimpin dan paling berkuasa di dalam rumah tangga.

Sedangkan seorang istri harus patuh terhadap perintah dan mengabulkan segala keinginan suami, termasuk poligami. Persoalan poligami masih ramai diperbincangkan oleh masyarakat yang tidak akan pernah ada habisnya. Sejatinya tidak ada perempuan yang ingin dimadu.

Poligami, oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai sunnah Nabi, sehingga banyak yang melakukannya dengan alasan tersebut. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Nabi tidak semuanya harus diteladani.

Apabila poligami diterapkan pada konteks masa kini tentu ditemukan banyak problematika. Poligami yang dilakukan Nabi Muhammad bukan semata-mata karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologis, melainkan juga terdapat proses Islamisasi di dalamnya, serta dilakukan untuk meringankan penderitaan wanita yang dinikahinya.

Sebab, di masa Nabi banyak janda dan anak yatim yang disebabkan para suami dan ayah gugur di medan perang.

Berbeda dengan pemikiran laki-laki masa kini, mereka melakukan poligami hanya untuk sebagai jalan melampiaskan nafsu biologis dengan mengatasnamakan sunnah Nabi.

Seperti halnya yang dikisahkan Nucke Rahma dalam novelnya yang berjudul Cinta di Tanah Haram. Novel tersebut mengisahkan seorang wanita bernama Khumairah yang memilki sifat penyabar, ikhlas dan solehah.

Semua itu bisa terlihat kala datangnya ujian hidup yang menimpanya. Kesetiaan cinta yang ditanamkan pada suaminya bernama Zidan berbalas penghianatan yang tidak akan bisa diterima oleh siapapun.

Namun karena ketaatannya pada agama yang membolehkan poligami dengan alasan tertentu, Khumairah bisa menerimanya.

Zidan berpoligami karena ingin merasa hebat sebagai suami, kareana dia menikah dengan seorang wanita yang terlalu mandiri dalam melakukan segala hal tanpa membebani Zidan.

Hal tersebut membuatnya sebagai suami tidak berguna dan tidak dibutuhkan, berbeda dengan sikap Viona yang selalu melibatkan Zidan dalam segala hal.

Realita yang terjadi dalam novel Cinta di Tanah Haram karya Nucke Rahma, suami yang berpoligami tidak mampu berlaku adil terhadap istri pertama dan istri kedua, bahkan tidak mampu terbuka kepada istri pertama bahwa dia telah berpoligami dan hari-hari yang telah dilalui penuh dengan kebohongan. Hal tersebut membuat Khumairah merasa dihianati.

Novel yang mengisahkan tentang penderitaan perempuan akibat poligami juga dikisahkan oleh Asma Nadia dengan judul Surga yang Tak Dirindukan, bahkan novel tersebut sampai diadaptasi ke dalam film layar lebar.

Asma Nadia mengisahkan kehidupan suami istri dalam sebuah rumah tangga. Pras dan Arini merupakan sepasang suami istri yang mendapat ujian terbesar dalam rumah tangga yaitu kesetiaan.

Berpoligami menjadi keputusan yang diambil oleh Pras ketika kesetiaannya telah goyah. Awal mulanya Pras tidak sengaja menolong seorang perempuan bernama Mei Rose yang mengalami kecelakaan. Setelah beberapa lama Pras merawat Mei Rose mereka saling jatuh hati dan sampai pada keputusan untuk menikah.

Arini yang menjadi istri pertama sama sekali tidak mengetahui tentang penikahan Pras dengan Mei Rose. Namun, setelah beberapa lama Arini mengetahui jika Pras sudah memiliki keluarga baru.

Rasa terhianati tentu saja dirasakan oleh Arini, tetapi ia tetap belajar ikhlas dan berbesar hati berusaha menerima kehadiran Mei Rose sebagai istri kedua. Poligami yang dikisahkan Asma Nadia terlihat jelas bahwa Arini dikhianati oleh suaminya dan disakiti oleh sesama perempuan.

Rasa sakit yang diberika Mei Rosen kepada Arini tidak begitu lama karena Mei Rose memutuskan untuk meninggalkan Pras. Namun, ketika Arini sadar bahwa dia mengalami sakit keras dan masa hidupnya tidak lama lagi, ia mencari Mei Rose dan memintanya untuk kembali pada Pras.

Keikhlasan hati seorang perempuan semakin terlihat dalam diri Arini, ketika ia rela suami yang sangat dicintainya menikah lagi.

Perhatian pengarang perempuan terhadap masalah keperempuanan dalam karya sastranya didorong oleh perasaan cinta dan empati yang besar terhadap dunia keperempuanan Indonesia, yang sejak dulu hingga kini perempuan masih menjadi subordinat laki-laki.

Namun, dapat pula karena didorong oleh perasaan prihatin bahkan marah akan dunia keperempuanan yang masih termarginalisasi dibanding dunia laki-laki. Realitas kehidupan masyarakat yang tidak terbantahkan hingga kini tampaknya masih demikian adanya.

Seiring dengan perkembangan nilai-nilai kehidupan yang sejak dulu masih berpihak kepada dunia laki-laki, kaum perempuan belum banyak berkesempatan untuk mengaktualisasikan diri. (*)

 

Penulis : Anis Surya Trisanti Mahasiswa S2 PBSI UNY alumni UAD